Urgensi Pendidikan Moral

Urgensi Pendidikan Moral Pada Tahap Pra-Konvensional Dengan Attachment

1460467175570cf5e74840e
Sumber: google.com

Pada masa remaja biasa harusnya sudah masuk ke dalam tahapan perkembangan moral post-konvensional. Tahapan tersebut mengharuskan mereka dapat melihat dimensi moral melalui hati nurani dan hak-hak asasi manusia secara universal. Karena kematangan kognitif para remaja sudah ke tahapan yang cukup tinggi, maka itu merupakan sebuah keharusan bagi anak remaja sudah masuk ke dalam  tahapan ke lima dalam teori Kohlberg (Santrock, 2007).

Namun, jika ditinjau dari kacamata studi kasus di lapangan menunjukan bahwa masih banyak anak remaja, bahkan dewasa, masih belum memiliki kesadaran hati nuraninya dalam melihat permasalahan moral atau nilai-nilai yang berlaku. Itu menunjukan masih lemahnya kesadaran hidup bermasyarakat dan memahami kontrak social yang berlaku di sekitarnya. Mereka, yang seperti itu, didorong oleh suatu penyanggahan bahwa itu menjadi haknya. Namun, menurut Kohlberg itu merupakan tahapan egosentris atau relative hedonism. Seseorang tersebut hanya mementingkan kepuasan dirinya sendiri tanpa melihat suatu tindakan dari kacamata aturan yang berlaku. Contohnya, dalam suatu institusi pendidikan yang berlabel agama islam, dicantumkan bahwa nilai-nilai keagamaan harus bisa lebih ditonjolkan. Karena itu merupakan suatu identitas tersendiri yang membedakannya dengan institusi yang lain. Nilai atau aturan yang berlaku adalah bahwa setiap civitas akademika yang berada dalam naungan lembaga itu harus menutup aurat dan berusaha berakhlak al karimah. Namun hal itu bertolak belakang dengan apa yang diharapkan dari tujuan bertata tertib tersebut. Sungguh sangat miris jika pada usia dewasa masih saja tidak bisa mematuhi norma yang berlaku.

Norma yang mungkin dilanggar oleh para pelanggar merupakan sebuah ketidaksadaran atau faktor dari lingkungan yang serentak melanggar norma tersebut dan memiliki latar belakang buruk dalam ketaatan terhadap aturan. Menurut penelitian (Cititation) bahwa  remaja yang memiliki hubungan (attachment) bagus dengan orang tuanya menunjukan perilaku yang positif ketika dewasa terhadap ketaatan moral setempat. Oleh karena itu, diperlukan suatu perlakuan terhadap perkembangan anak supaya berdamapak baik pada masa depannya terutama dalam keta’atan moral.

Perlakuan yang dimaksudkan adalah bahwa ketika anak-anak pastilah membutuhkan seorang figure yang dapat dijadikan sebagai seorang contoh. Disamping memiliki hubungan emosional dengan orang tuanya, anak-anak yang sudah masuk ke dalam usia pra sekolah pasti mendapatkan banyak nilai dari lingkungan sekitarnya. Jadi, diperlukannya hubungan dengan orang dewasa lain yang dapat membimbing atau menuntun anak-anak tersebut ke jalan yang diharapkan. Oleh sebab itu, peranan orang dewasa seperti kitalah menjadi solusi membimbing secara komunikatif terhadap perkembangan anak.

Referensi :

John W. Santrock, Remaja, Jakarta: Erlangga, 2011, Ed. 11.

Facebook Comments

arifkeisuke

Lebih suka melihat langit biru di antara pepohonan yang hijau.

One thought on “Urgensi Pendidikan Moral

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: