Mengapa Teori Sering Dikata Tidak Sesuai dengan Praktek

Assalamu’alaikum. Selamat berbahagia temen-temen semua.

Bagaimana kabarnya ? Semoga tetep sehat ya, baik secara psikis atau fisiknya. Kalau sakit mah harus diobati atuh ya, sok bagi yang kurang bahagia bisa dilirik Mengoptimalkan Potensi Sistem Syaraf untuk Kebahagiaan semoga aja membantu. Tapi bukan berarti artikel seorang pakar juga sih hehe.

teori-1
Sumber : google

Temen-temen, pernah engga sih denger kalimat “Jangan hanya belajar teori, teori itu sering beda sama praktek di lapangan”. Pernah ga ? Pasti sering kan hehehe. Pernah engga manteman terpikir mengapa kalimat itu diucapkan oleh guru, orang dewasa atau siapalah ?. Saya ingin mencoba analisis hal ini, meskipun saya tidak tahu apa-apa dan sok tahu.

Sebelum beranjak lebih jauh, mari kita ngopi definisi teori dulu. Teori secara ringkas merupakan penjelasan terhadap suatu fenomena yang berdasarkan pada observasi yang dilakukan ketika riset secara sistematis. Sistematis berarti adanya pola yang observable, dan implikasinya suatu fenomena itu bisa dipahami dan bahkan diprediksi. Tahu ga manteman cara kerja berpikir induksi atau deduksi ?

Jadi gini toh ada sebuah contoh yang cukup simple. Si Tono di suatu hari yang terik masuk ke dalam hutan, asumsinya Tono belum tahu apapun. Ketika 1/3 perjalanan ia menemukan sesuatu berwarna merah dan manis rasanya, itu apel katanya. Kemudian dia melihat bola warna hijau besar, berair dan manis pula, itu semangka katanya. Setelah hampir perjalanannya selesai Tono menemukan Anggur, Jeruk, dan Lemon. Nah jika kita menanyakan apa yang ditemukan Tono selama dalam perjalanannya di hutan dan dengan kata simple, bagaimana ? Yup, kita mencoba mengelompokan bahwa Tono menemukan Apel, Semangka, Anggur, Jeruk dsb. Dari beberapa temuan Tono, bisa dikatakan bahwa itu adalah buah. Kira-kira begitulah cara berpikir induktif. Untuk jelasnya mari lihat gambar.

Teori
Proses pengamatan fenomena

Bisa kalian simpulkan makna dari gambar tersebut ? saya serahkan pada para pembaca yang arif sekalian.

Jadi munculnya sebuah teori itu tidak lain karena adanya fenomena di masyarakat atau di lingkungan. Oleh karena itu, teori memiliki sifat empiris atau pengalaman. Terus matematika itu bagaimana ? rumus-rumus dalam matematika merupakan hasil dari memory langsung. Itu artinya dia memiliki sifat rasional atau sudah jadi postulat (baca: Postulat). Sifat lain yang dimiliki oleh teori adalah tentatif, karena tidak ada kebenaran mutlak dari suatu teori. Setiap kemajuan zaman, akan selalu ada pembantahan terhadap teori sebelumnya. Untuk membaca lebih jauh tentang empirisme dan rasionalisme boleh nih buku dunia sophie (baca : Resensi Buku “Dunia Sophie”)

Hal-hal yang melekat pada teori juga adalah adanya bias. Bias gampangya ada sesuatu yang menyimpang dari data yang didapat untuk dijadikan teori, jadi teorinya tidak sah atau tidak berlaku. Bias dalam kbbi berarti simpangan arah dari garis tempuhan karena menembus benda yang bening. Salah satu contoh dalam teorinya yaitu bias budaya. Kebanyakan penelitian, khususnya psikologi, itu dilakukan di luar Indonesia. Tentunya budaya Indonesia berbeda dengan budaya luar, dalam hal ini jika Freud mengatakan pada masa perkembangan fasefallis itu adanya libido sexual. Mungkin asumsi itu akan ditentang oleh masyarakat kita. Juga contoh lainnya seperti tipe-tipe kepribadian muslim Indonesia dsb. Namun, kalau teori untuk ilmu eksakta tentang Bumi mah, ya sama karena kita berada dalam naungan satu rumah. Bias lainnya yaitu bias populasi, generalisasi dsb.

Jadi bagaimana dong teori bisa sering berbeda dengan praktek ? Apakah teorinya salah atau bias ? atau ada hal lain ?

Dalam beberapa hal mungkin teori akan berlaku konsisten, seperti sebuah benda pasti akan jatuh ke bawah dsb. Tapi dikala ilmu eksak ditemukan, ilmu social dan humaniora terus berkembang dan membungkus dirinya dengan zaman yang berubah. Jika postulat atau teori ilmu social pengen konstan maka objek yang menjadi kajiannya harus statis. Mau manusia statis berjalan ke kampus, kantor dan pulang terus setiap saat bayangkan di seluruh dunia seperti itu, tanpa ada pola perilaku lain. Gak mungkin kan ?. Dan juga suatu teori itu diambil atau disimpulkan atau digeneralisasikan terhadap populasi dari sampel yang representatif. Artinya meskipun suatu sampel representatif pasti ada kejanggalan atau suatu sampel yang menyimpang sedikit atau eror dari kebanyakan. Yang seperti ini dinamakan derajat error. Untuk ilmu sosial dibolehkan eror sebanyak 5%.

Dan juga nih temen-temen, menyangkut bias tadi itu bisa menjelaskan kenapa tidak berlaku disebuah tempat secara mutlak teori tersebut. Karena kebanyakan buku-buku atau teori yang dipakai di negara kita tuh diteliti di luar negeri, bukan di dalam negeri oleh masyarkat indigenious. Jadi, wajar saja jika terjadi gep antara teori dan praktek. Juga kemampuan manusia memahami suatu teori yang parsial, tidak sempurna kemampuan berpikir manusia. Tapi kebanyakan mereka sombong dengannya bahkan menuhankan science, yang padahal itu hanya hasil analisis mereka saja tidak kurang dan lebih. Mereka hanya menangkap suatu sensasi berdasarkan prinsip positivistik yang ditangkap oleh inderanya. Sebagaimana diketahui indera manusia itu terbatas. Betapa jahilnya jika menganggap hasil tangkapan sesuatu yang terbatas menjadikan suatu yang tidak terbatas.

 

Mendung_di_langit_biru_(48)
sumber : google

 

For your information, artikel selanjutnya adalah tentang kecerdasan dengan system syaraf kita. Therefore you dont go to outside. Enjoy your life, dont be sad and dont be afraid to walk on your dream. to expose the true we should have a brave, what else in the bad moral millieu.

 

Dan apabila ada koreksi atau saran atau apapun bisa kamu tulis di komentar atau kirim email personal ke : aripviker@gmail.com :). 

Facebook Comments

arifkeisuke

Lebih suka melihat langit biru di antara pepohonan yang hijau.

7 tanggapan untuk “Mengapa Teori Sering Dikata Tidak Sesuai dengan Praktek

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: