Bagaimana Tarzan Bisa Menemukan Tuhan ?

Yosha, Selamat Malam semuanya. Semoga kali ini baik-baik saja ya, pada sehat bae hehe.

Kali ini saya akan memposting sesuatu artikel yang cukup berat. Dan mengapa ? ya karena ini sudah saya buat untuk memenuhi tugas wkwk. Ya daripada didiemin ga ada yang mereview, siapa tahu ada gitu yang mau mengevaluasi atau meluruskan pendapat saya mengenai topik yang satu ini. Bener kan ? Namanya juga belajar kan hehe btw baca dulu ini biar kita sama persepsi tentang belajar : Sudahkah Kita Belajar ? . Topik ini memang merupakan seputar filsafat. Untuk itu saya rekomendasikan bagi yang suka filsafat baca dulu nya Resensi Dunia Sophie. Lumayan baca filsafat yang digabung sama novel, detektif pula. Semakin penasaran tuh di setiap babnya hehe.

 

Gambar 1 Diambil dari Google

Mungkin Kids Zaman Now belum pernah main game ini ya :D. Inget ga atau masih ada yang pernah main game ini di PC ?. Kalau pernah berarti kita kids zaman past hahaha. Yaa Tarzan teman-teman, ada juga filmnya bahkan sudah ada dalam film layar lebar juga loh.

Berdasarkan Hadits Rasulullah Saw, bahwa


 

 

 

Artinya : Dari Abu Hurairah RA, dia berkata bahwa Nabi SAW bersabda, “Tidak ada seorang anak yang lahir melainkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, atau Nasrani, atau Majusi. Sebagaimana hewan menghasilkan hewa yang sempurna, apakah kalian mendapatkan adanya kekurangan [cacat] ?”. (Al Imam Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalini, 1997)

Juga Allah berfirman dalam Al-Qur’an bahwa artinya :

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (Q.S. Ar-Ruum [30] : 30).

Maka, sudah sewajarnya manusia memiliki fitrah dari Allah SWT memliki agama Allah.

Agama yang diridhai Allah adalah seperti Firman-Nya yaitu

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ ۗ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ ۗ وَمَنْ يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

Artinya : “Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya”. (Q.S. Al-Imran [3] : 19).

Menurut penafsiran penulis yang didasarkan hadits tersebut bahwa seorang Tarzan sudah memiliki fitrah dan kontrak dengan Allah bahwa dia percaya dalam hatinya. Namun karena lingkungan yang dalam hadits tersebut dianalogikan “. .Maka kedua orang tuanya. . .” membentuknya menjadi orang yang tidak mengenal akan Tuhannya. Lingkungan yang mengurusnya yaitu dunia hewan yang notabene tidak memiliki akal, mereka bergerak sesuai dengan insting. Dan juga manusia jika akalnya tidak digunakan maka akan tumpul. Jika seorang Tarzan itu dididik dan dibesarkan sedari dini atau masa bayi, dia akan dibentuk oleh lingkungannya. Hasilnya yaitu mungkin Tarzan itu tidak dapat berbicara sebagai mana mestinya, karena tidak ada di lingkungannya yang memberikan stimulus atau memberikan contoh penggunaan bahasa manusia itu. Serta dia diajarkan atau melihat sekerumunan hewan yang berlari menggunakan dua kaki dan dua tangan, hal itu sesuai dengan Teori Albert Bandura yang menyatakan bahwa anak adalah active learner. Active learner bisa dilihat dengan proses meniru terhadap seorang model yang menjadi figurnya. Oleh karena itu, menurut saya Tarzan akan sangat susah mencari Tuhan jika tidak dibantu oleh manusia lainnya. (Bagaiaman proses belajar manusia lewat orang lain bisa dibaca disini : The Better Modelling Figure for Better Children Behavior)



 

Namun, karena kemurahan Allah SWT, dan kita dianjurkan bahkan diharuskan untuk tidak berputus rahmat kepadanya, kecuali orang kafir (Q.S. Yusuf [12]: 87). Jika Allah berkehendak mungkin akan diberi hidayah yang bisa kita ambil ibrah dari kisah Nabi Ibrahim A.S. yang mencari siapa Tuhan yang sebenarnya. Dan juga dalam diri Tarzan sudah memiliki potensi dia menemukan Tuhan. Potensinya yaitu pertama, dia memiliki akal dan kedua, dia memiliki fitrah atau potensi dalam dirinya untuk mengenal Tuhan. Jadi, kesimpulan saya bahwa Tarzan tidak akan menemukan Tuhannya jika tidak ada stimulus atau lingkungan yang mengantarkannya ke jalan tersebut. Dan karena akal Tarzan yang tidak terasah akan tumpul. Dan kebutuhan-kebutuhannya Tarzan tidak terlalu komplek, hanya sebatas mencari makan dan bertahan hidup layaknya hewan. Karena menurut Freud perkembangan ketika masa bayi akan berpengaruh kepada masa dewasa nanti. Misalnya Freud menyatakan bahwa bayi akan melewati fase oral, dimana kenikmatan terpusat di mulut. Jika itu tidak dipenuhi, orang dewasa akan meregresi dirinya seperti mengecup-ngecup jari.

Dan asumsi terakhir saya yaitu, Tarzan bisa saja berpikir tentang adanya Tuhan. Pemikirannya seperti bagaimana kepercayaan animisme dan dinamisme yang tumbuh di Indonesia menurut teori atau sejarah mashur dalam buku-buku teks pelajaran anak sekolahan. Yaitu Tarzan mula—mula akan menganggap barang-barang sekitar memiliki kekuatan-kekuatan dahsyat. Tarzan mungkin tidak diajari oleh lingkungannya tentang bagaimana berpikir, berbahasa, dan hidup normal layaknya manusia biasa. Namun, untuk pencarian Tuhan Tarzan bisa dimasukan ke dalam teori yang similar dengan yang terjadi pada zaman dulu. Yang mana katanya Nenek moyang Indonesia dulu yang masih hidup nomaden, masih primitif dalam mengenal adanya kekuatan yang berada di luar diri manusia. Simbol-simbol keberagamaan dilihat atau diwujudkan dalam ungkapan rasa syukur terhadap sang pemberi makan dengan cara menggambar dsb. Semakin maju waktunya, maka ungkapan dari itu diekspresikan dengan adanya upacara, atau menganggap sebuah barang, batu misalkan, memiliki kekuatan yang luar biasa.

Namun, dari semua itu hanyalah asumsi atau pendapat yang belum benar terbukti adanya. Bahkan keberadaan Tarzan sungguhan yang dari baru lahir tumbuh sampai dewasa berada di hutan masih belum bisa dikonfirmasi keberadaannya. Jika ada mungkin, Allahu ‘alam. Untuk menjawab Mengapa Teori Sering Dikata Tidak Sesuai dengan Praktek ? boleh dibaca di situ.

 

Gambar 2 Diambil dari Linux Cinamont

 

Oke teman-teman untuk saat ini, hanya itu yang bisa disampaikan. Semoga bermanfaat dan menambah wawasan kita semua. Dan jangan lupa untuk menyambut pagi dengan bersyukur, karena senyuman yang beriringan dengan cerahnya pagi akan membuat mood bagus pada saat siang hari. Itu sih katanya wkwk. Tapi yang pasti kita harus bersyukur masih diberi kesempatan oleh Allah untuk melihat langit biru dengan sinar mata hari yang cukup menyengat, apalagi bunga-bunga bermekaran wkwk.

For your information, artikel selanjutnya adalah tentang tunggu saja deh hehehe 😀 Therefore you dont go to outside. Enjoy your life, dont be sad and dont be afraid to walk on your dream. to expose the true we should have a brave, what else in the bad moral millieu.

 
 

Dan apabila ada koreksi atau saran atau apapun bisa kamu tulis di komentar atau kirim email personal ke : aripviker@gmail.com :). 

 

 

Daftar Pustaka

Al Asqalani H. I, Terj. Ummah A. G., Fathul Bari, Jakarta: Pustaka Azzam, 1997.


 

Facebook Comments

arifkeisuke

Lebih suka melihat langit biru di antara pepohonan yang hijau.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: