Mengapa Perempuan Suka Berkumpul ?

Assalamu’alaikum. Selamat malam ya.

Ketika awal lihat blog saya bersemangat, dan ketika adsense menerima lamaran ku nambah semangat. Namun, karena saya melanggar ikrar bersama adsense akun saya kena suspended wkwk. Disakiti adsense langsung jaga jarak sama saya hehe

Kali ini saya mau mencoba memposting salah satu hasil perkuliahan psikologi sosial II tentang mengapa yang suka gosip, prototypenya, perempuan ? :D. Bukan berarti memfitnah atau apa ya teman-teman sekedar mengeshare ilmu dan ini lepas dari sifat normatif :D. Ngeless. Sama aja seperti kontek materi ini ya Miskonsepsi dalam Common Kepribadian.

Gambar 1 Diambil dari Google

Memang sih ini tidak sepenuhnya berada dalam perempuan, namun kecenderungannya. Karena artikel atau topik ini didasari dengan biological perspektif tidak secara keseluruhan seperti yang telah dijelaskan dalam ini Miskonsepsi dalam Common Kepribadian. Jadi, menurut pandangan ini orang sudah memiliki perilaku seperti ini dalam dirinya atau tidak dipelajari (Masalah belajar bisa dilihat di Sudahkah Kita Belajar ?  ).


Emang iya tah perempuan suka berkumpul ? Terus kenapa tidak pada pria ? apakah pria jarang berkumpul ? Kalau nongkrong itu pria sering melakukan juga ?. Memang benar semua pertanyaan tersebut perlu diajukan dan pada pria juga sering berkumpul, terutama nongkrong atau berdiskusi. Namun, dalam artikel ini yang akan lebih difokuskan adalah kepada bagaimana atau perilaku perempuan dan pria dalam mengurangi stress. Dalam teori psikologi sosial yang berbasis pada sudut pandang biologi, cara untuk mempertahankan diri yaitu ada dua yaitu Tend and Be Friend atau Fight or Flight. Sebelum itu mari kupas terlebih dahulu apa yang dimaksud dalam perspektif biologi.


Disini ada dua yaitu perspektif biologi dan biologi evolusi. Perspektif Biologi menekankan pada proses mental yang berpusat dalam tubuh, terutama dalam otak dan sistem syaraf (King, 2010). Artinya adalah perilaku yang berada dalam diri kita saat ini merupakan turunan dari orang tua kita, melalui syaraf atau gen-gen. Dimana gen menentukan perilaku kita dalam berinteraksi, ini dinamakan dengan nature atau hereditas. Contoh perilakunya adalah alturisme, Agresi, sosialisasi dsb. Proses singkatnya adalah pertama meosis yaitu pembagian sel, satu sel membelah, kedua fertilization yaitu bercampurnya sel sperma dan sel telur. Dalam Al-Hadits Arbain proses pembentukan manusia ada dalam Hadits ke 4 yaitu pertama selama empat puluh hari dalam rahim ibu berbentuk Nutfah (air mani yang kental), lalu menjadi alaqah (segumpal darah) selama itu pula, lalu menjadi mudghah (segumpal daging) selama empat puluh hari juga. Dan Allah meniupkan ruh kepadanya dan mencatat empat hal yaitu rezeki, ajal, amal, dan sengsara atau bagahiannya . . . (H.R. Bukhari dan Muslim). Dalam Al-Qur’an Allah berfirman (Q.S. Al-Hajj ayat 5) kurang lebih tahapannya, yaitu pertama menjadi Nutfah, alaqah, mudghah.

Kemudian dalam perspektif evolusi bahwa perilaku cenderung terjadi dari adaptasi dengan lingkungan.

Prinsipnya yaitu (Lange dkk, 2012)

  1. Principle of Variation : variasi atau kekhasan dalam fisik dan perilaku individu.
  2. Principle of inheritance : Diwarisi variasinya
  3. Principle of adaption : Kompetisi untuk mendapatkan sumber yang langka.
  4. Principle of evolution : Fitness yaitu hasil dari adaptasi sebagai konsekuensi adaptasi terhadap lingkungan.

Oke mulai pahamkan bagaimana prinsip biologi ? pasti kan ya :D.

Kemudian yang pertama yaitu respon fight or flight yaitu respon yang diasosiasikan dalam proses psikologi yang spesifik, terutama disebabkan oleh sistem syaraf simpatetik (meningkatkan kinerja organ dalam tubuh), dalam tubuh kita produksi hormon oleh medulla yaitu adrenaline and norepineprin. Intinya yaitu kita merespon dengan apakah kita mampu melawan sebuah masalah atau membiarkan dan kabur dari masalah tersebut. Mengapa itu terjadi ? Karena kita memproduksi hormon adrenalin, yang mana berfungsi sebagai pemicu kita untuk bertindak yang adrenal gitu. Teori ini dikemukakan oleh Walter Cannon tahun 1920s. Untuk penjelasan lebih lengkap bisa dibaca disini (Fight or Flight Theory). Respon fight bisa berbentuk agresif atau respon antagonis. Sedangkan flight yaitu seperti melarikan diri, konsumsi narkoba, dsbb

Teori lain menurut penelitian yang dilakukan oleh Shelley Taylor adalah Tend and Be Friend. Hipotesis nya yaitu jika kontak sosial bersifat mengancam dan tidak ada dukungan, maka respon stress secara psikologis dan biologis meningkat dan upaya untuk melakukan afiliasi meningkat dua kali lipat. Jika kontak sosial bersifat mendukung dan nyaman, maka kebutuhan untuk afiliasi akan menrun dan respon tubuh terhadap stress juga menurun. Jika kita cermati pada beberapa hewan, misalnya ayam, mereka akan lebih ganas atau beringas atau agresif ketika sedang mengerami atau memiliki anak, dan jika anaknya diganggu.


Perilaku Tend and Be Friend cenderung terjadi pada wanita karena peran dari oxytocin. Oxytocin merupakan suatu zat hormon yang ada dalam tubuh yang secara umum memberikan pengaruh menjadi berafektif pada manusia (Bisa dilihat di Wikipedia lebih jelasnya). Dalam kajian masalah ini, baik pria maupun wanita, ketika berada dalam tekanan atau stress akan mengeluarkan oxytocin sebagai respon untuk mencapai homeostasis (keseimbangan). Perbedaannya terletak pada, jika pada pria, oksitosin yang keluar dihambat oleh hormone seks pria yaitu adrogen. Sedangkan pada perempuan oksitosin yang dihasilkan lebih banyak, sehingga dari asumsi tersebut perasaan afektif pada wanita ketika stress akan meningkat.

Oksitosin pada wanita tidak hanya banyak dikeluarkan ketika stress, tetapi pada masa kehamilan atau menyusui juga. Karenanya hormone ini mendorong wanita untuk berperilaku pemeliharaan, pengasuhan, dan kontak social dalam menghadapi stress. Selain itu respon yang ditunjukan adalah untuk berafiliasi dengan orang lain. Cenderungnya terhadap sesame wanita lagi, karena kelompok social merupakan faktor penting bagi wanita. Mereka akan lebih nyaman jika berafiliasi atau berkumpul terhadap sesamanya, baik itu lewat telepon, chatting, atau berkumpul secara langsung.

pexels-photo-125457
Oke, itulah yang mungkin bisa disampaikan. Mungkin bisa jadi bahan pancingan atau sebagai langkah awal bagi temen-temen untuk mengetahui psikologi lebih lanjut lagi, dan kebetulan ini salah satu ranah psikologi social. Diamana suasana kelompok social berperan terhadap psikis atau proses mental seseorang. Terima kasih dan jangan lupa berbagi ilmu dengan sesame manusia lagi. Perlu diketahui bahwa suatu teori bukan kemutlakan untuk diterima dan dipercaya, teori ada untuk dibantah dan dikritisi. Sebagaimana hasil karya manusia lainnya yang rapuh dan pasti memiliki bias atau kekurangannya, karena kebenaran yang hakiki hanya miliki Allah semata.

Bagi kamu yang memiliki kritik atau saran yang bersifat membangun blog ini dan atau memiliki artikel yang ingin dimuat dalam blog ini silahkan kirimkan tulisannya melalui email berikut : aripviker@gmail.com

Daftar Pustaka

Gazi (2015), Mengenal Teori-Teori Psikologi Kontemporer, Ciputat: UIN Press.

King A. Laura, Terj. Marwensdy Brian, Psikologi Umum Sebuah Pandangan Apresiatif, Jakarta: Salemba Humanika, 2010.

Facebook Comments

arifkeisuke

Lebih suka melihat langit biru di antara pepohonan yang hijau.

One thought on “Mengapa Perempuan Suka Berkumpul ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: