Putuskanlah Apa yang Harus Kau Putuskan, Janganlah Ragu Wahai Anak Muda!

Yosh, Assalamu’alaikum Wr.Wb. Selamat Siang.


Temen-temen pernah ga sih merasa cemas di suatu hari penuh ?. atau sering merasakan kecemasan (Anxiety) ?. Atau ragu terhadap suatu keputusan ?. Memang hal itu pasti menyerang siapapun, karena itu merupakan kekurangan manusia yang tidak mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan. Masa depan disini seperti nanti dua tahun ke depan, besok, lima menit kemudian, atau yang belum terjadi dan akan terjadi. Karenanya manusia bisa saja terjerumus ke dalam kecemasan dalam mengkhawatirkan masa depan, baik itu yang mendalam atau hanya sesaaat. Namun perlu diketahui, kecemasan berdasarkan buku Desk Reference to The Diagnostic Criteria From DSM-V yang diterbitkan oleh American Psychiatric Association termasuk ke dalam sebuah sintom atau penyakit. Tetapi ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi untuk mendiagnosis seseorang memiliki anxiety disorder. Hal yang ingin saya sampaikan adalah jika kita memelihara kecemasan atau keraguan terhadap masa depan atau apapun, kita akan menuju ke arah was-was. Dikutip dalam sebuah ceramah yang disandarkan pada sabda Nabi SAW yaitu Al Was wasu minassyaiton artinya was-was merupakan bagian dari syaitan atau buruk sekali. Dan bisa juga menjadi kepribadian kita. [Masalah Kepribadian bisa dibaca disini Miskonsepsi dalam Common Kepribadian].


Nabi Muhammad SAW bersabda yang artinya “Tinggalkan perkara yang meragukanmu dan kerjakan perkara yang tidak meragukanmu” (HR. Tirmidzi dan Nasai, dalam Hadits Arbain No. 11). Sebelum melihat apa dampak dari keraguan dan kecemasan yang terus terpelihara dalam diri, yuk mari simak beberapa konsep dan secara substantif. Karena jika kita ingin menyembuhkan sesuatu, bukankah kita juga harus mengedukasi atau mengetahui apa penyebab dari kesakitannya itu.

Vidio com source Orang Ragu
Janganlah ragu. source : Vidio.com

Keraguan, dalam Bahasa Indonesia berasal dari kata ke-ragu-an. Ragu yang artinya dalam keadaan yang tidak tetap hati (dalam mengambil keputusan, menentukan pilihan dsb) atau bimbang dan sangsi tidak percaya. Kemudian ditambahkan imbuhan menjadi keraguan yang berarti dalam keadaan ragu atau kesangsian. Sedangkan Kecemasan berasal dari kata ke-cemas-an yang berarti tidak tentram hati (karena khawatir, takut) atau gelisah. Dalam definisi di atas dua hal tersebut, keraguan dan kecemasan, secara esensi atau dasarnya merupakan sama yaitu suatu yang berada dalam hati dan rasa yang tidak nyaman. Itu juga bisa diungkapkan bahwa dimulai dari keraguan bisa menyebabkan kecemasan. Contohnya, seseorang yang dihadapkan dengan dua pilihan penting, yaitu A (Kuliah msialkan) atau B (Kerja misalkan) yang merupakan pilihan krusial. Seseorang tersebut ragu karena keduanya, berdasarkan pertimbangannya itu banyak manfaatnya. Namun tidak bisa mengambil kedua pilihan. Karena seseorang itu merasa kurang percaya, takut, bimbang, dsb. Sampai pada suatu masa seseorang itu memutuskan mengambil A, namun memiliki keraguan dalam pilihan tersebut dan ingin juga yang B. Sehingga orang itu merasa cemas, apakah pilihannya benar atau salah.

Masalah keraguan ini banyak terjangkit pada anak muda zaman sekarang yang jika jarang menuntaskan suatu keputusan. Dalam kontek ini yaitu ketika suatu keputusan atau pilihan yang tidak dipilih oleh kita terlihat lebih menguntungkan atau lebih baik, kita tidak boleh menyesali apa yang sudah dipilih. Namun, apabila kita menyatakan suatu kalimat yang mengindikasikan suatu penyesalan, “Andaikan saya pilih yang itu. . .” misalkan, maka hal itu tidak boleh kita lakukan. Secara tidak disadari, itu akan masuk ke dalam alam bawah sadar kita. Sehingga apabila kita merespon kejadian itu dengan penuh emosional, masalah tersebut mengendap dalam pikiran kita dan akan terus terbawa rasa sakit atau ketidak tentraman hati karena hal itu. Konsep penyimpanan memori ke dalam alam bawah sadar akan dijelaskan di lain waktu. Untuk menghindari itu, kita harus punya keyakinan dan percaya atau menyandarkan urusan itu pada Allah, dengan berkata dan tanam dalam hati misalkan, Qaddarullahu wama Syaa’ fa’ala (Katakanlah bahwa ini telah Allah takdirkan atau kehendaki). Karenanya juga Allah telah membekali kita dengan shalat Istikharah, supaya kita berpengang teguh menyerahkan urusan kita kepada-Nya dan karena kita tidak tahu apa yang terjadi ke depan.

Decision making Enterpreneur com
Tentukanlah tujuanmu. Source : Enterpreneur.com

Seperti yang dijelaskan tadi dampak dari keraguan adalah kecemasan, kalau dalam istilah sunda itu hanjakal. Nah itu tuh engga bolehm karena bakal membentuk suatu kepribadian yang ragu atau takut ketika berhadapan dengan pengambilan keputusan atau decision making. Dalam kajian psikologi itu bisa jadi disebabkan karena kita juga tidak mengenal diri (self) atau tidak punya self-concept. Dari self-concept bisa menjalar ke berbagai aspek, seperti self-regulation, self-esteem etc. Mari kita kupas satu-satu. Diri atau self merupakan keyakinan yang kita pegang mengenai diri kita sendiri. Sebarapa yakin kita dengan diri kita. Diri kita bisa dijelaskan dengan berbagai atribut yang melekat, seperti tanggung jawab sosial atau tugas-tugas, bagian dari suatu kelompok, konsep diri dsb. Simpelnya, seseorang mungkin memandang atau meyakini dirinya sebagai orang sunda asli (USA :D) yang bercita-cita jadi menteri. Seperangkat atau kumpulannya mengenai keyakinan tentang diri kita sendiri ini dinamakan self-concept. Atau bagaimana kita mempersepsikan diri kita sendiri. Jika kita memiliki konsep diri yang jelas, kita tidak akan ragu dan yakin pada apa yang akan dilakukan. Sehingga hal itu bisa mengusik self-esteem atau penghargaan diri. Self-esteem adalah bagaimana atau hasil evaluasi tentang diri kita sendiri, artinya tidak hanya yakin tentang diri kita sendiri tetapi kita mampu menilai kualitas-kualitas diri kita (Shelley E. Taylor, dkk, 2009).

Dari mana kita mengenali diri sendiri ?. Banyak sekali, seperti sosialisasi dengan orang lain, bergabungnya dengan suatu kelompok, atau bagian dari suatu suku. Artinya informasi mengenai diri kita sendiri bisa didapat dengan pencarian baik yang didasarkan pada analisis subjektif diri atau dari eksternal. Biasanya yang sering dilakukan adalah analisis SWOT atau apa yang kita tahu dan orang lain tahu, apa yang mereka tahu tapi kita tidak tahu, apa yang orang lain tidak tahu tapi kita tahu, dan apa yang tidak diketahui orang lain serta oleh kita juga. Dalam sebuah perkuliahan psikologi industri, saya diberikan tiga tools untuk mengasah decision making dengan cara knowing yourself, finding your goals, and knowing you position or existention. 

 

Dalam kajian psikologi perkembangan menurut Erickson yaitu tugas yang dibebankan pada remaja adalah mengenal identitas diri (Patricia H. Miller, 1997). Identitas diri yang dimaksudkan adalah mengenai kejelasan konsep diri kita, siapa diri kita, dari mana diri kita, dan untuk apa diri kita. Identitas diri tercermin bisa jadi dalam sebuah kelompok sosial, misalkan kelompok A dsb, atau diri ini sebagai seorang remaja yang memiliki cita-cita bisa membuat suatu media komunikasi yang interaktif dan edukatif. Artinya bagaimana kita menemukan diri kita sendiri, baik itu kontek individu atau kelompok. Contoh konkritnya adalah pilihan remaja seperti mau masuk kuliah atau kerja, jika kuliah ingin jurusan apa dan kenapa memilih hal itu. Karena itu akan menjadi identitias diri masing-masing dan jika dibarengi dengan konsep diri, maka tahu ke arah mana kita melangkah. Apalagi dan memang harus disandarkan pada Allah penguasa kerjaan bumi dan langit.

Remaja Sehatfresh com
Remaja beridentitas. Source: Sehatfresh

Menurut Erickson pula, ketika seorang remaja mengalami masalah dalam perkembangan ini maka akan memiliki kebingungan identitas. Dampak ke depannya yaitu ketidakmampuan untuk bersosialisasi dengan orang lain atau tidak mampu membat hubungan yang item, karena tidak punya rasa percaya diri terhadap identitias dirinya.

Masalah Keraguan yang hinggap pada anak muda zaman sekarang, karena tidak pernah menuntaskan apa yang harus dituntaskan. Jangan pernah menyesali apa yang sudah diputuskan, tapi katakanlah bahwa ini sudah Allah takdirkan. Tentang hidup dan refleksi diri bagaimana selalu ragu terhadap sebuah keputusan atau pilihan yang krusial, dan setelah itu sudah biarkan bertawakal. Terima diri, karena dengan menerima kita bakalan lega secara pikiran. Tapi bukan berarti tidak boleh menginginkan yang lebih tinggi. Akan tetapi bersyukur atas apa yang telah diberikan saat ini. Dan kita juga dijarkan bahwa tidak boleh terlalu berkelana jauh ke depan atau tercebur ke dalam masa lalu. Bila itu terjadi secara tidak langsung akan berakibat streess, dan tidak homeostasis dalam tubuh kita. Bagaimana menghadapi stress atau responnya sedikit sudah dijelaskan di Mengapa perempuan suka berkumpul. Namun tidak secara menyeluruh, bagaimana proses stress itu terjadi dan akan dibahas dikemudian hari.

Bagi kamu yang memiliki kritik dan saran yang bersifat membangun blog ini dan atau memiliki artikel yang ingin dimuat dalam blog ini silahkan kirimkan tulisanmu ke e-mail berikut : Aripviker@gmail.com.

Terima kasih.

Facebook Comments

arifkeisuke

Lebih suka melihat langit biru di antara pepohonan yang hijau.

One thought on “Putuskanlah Apa yang Harus Kau Putuskan, Janganlah Ragu Wahai Anak Muda!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: