Menyingkap Makna Bertemu dengan Orang Lain. Hanya Kebetulan atau Penuh Makna ?

Wah, Asslamualaikum. Ketemu lagi di malam-malam yang penuh dengan jangkrik wkwk. Pasca lebaran ini baru terealisasikan untuk memposting sesuatu lagi di website ini. Setelah sekian lama bergelut dengan kesibukan uas dan tugas kuliah yang memenjara ide untuk menulis, atau saya yang terlalu malas wkwk. Namun yang pasti selamat lebaran bagi kawan-kawan yang merayakan.
Dalam kesempatan ini, saya ingin mengajak teman-teman berdiskusi, kalau sempat mengomentar, tentang hal yang mungkin sepele. Namun, jika diterawaang ini penuh dengan makna. Menyangkut bagaimana sistem kerja pemberian makna bisa dibaca di artikel sebelumnya : Mengapa kita membenci sesuatau atau takut sesutau dan sulit hilang.

Menyingkap Makna Bertemu dengan Orang Lain

pexels-photo-109919
Source : Pexel

Sebagai makhluk social tentunya tidak asing lagi dalam hal berpapasan atau bertemu dengan orang lain. Bertemu ketika di jalan, di tempat rekreasi, dan di tempat umum lainnya. Pertemuan tersebut mungkin hanya sebatas angin yang berhembus di sore hari, dingin dan misterius. Kadang kala saya termenung dalam lamunan alam pikir sendiri ketika dalam keramaian. Saya mencoba menelaah dan mencari tahu mengapa kita dipertemukan dengan orang lain. Terkadang saya terjebak dan bingung dengan asumsi-asumsi yang berbelit dan saling menyangkal satu dengan yang lain.

Bagi saya sendiri, pertemuan dengan orang lain, baik itu yang dikenal ataupun tidak, terkadang saya persepsikannya pada banyak makna. Mulai dari orang yang tidak dikenal memiliki wajah atau penampilan yang mirip dengan orang yang saya kenal, menjadi panduan atau tolak ukur dalam bermuhasabah, tidak memiliki arti sama sekali, dan lainnya. Sulit sekali memang memaknai hal tersebut. Dalam beberapa istilah populer banyak orang berpesan “Jangan menilai orang dari covernya”. Menurut saya ini tidak sepenuhnya mutlak harus diikuti. Saya berasumsi sepeti itu karena sistem kerja otak kita yang mengarahkannya. Karena kekurangan informasi tentang seseorang, otak kita akan memproduksi persepsi sesuai dengan data yang ada pada diri baik yang sudah terjadi atau harapan kita. Itu tidak bisa ditolak oleh kita. Ini bisa dibuktikan dengan penelitian yang dilakukan baik oleh Walter Mischel ataupun Daniel Kahneman. Mereka mengatakan bahwa sistem kerja otak terdikotomi menjadi dua bagian. Bagian tersebut terdiri dari proses secara otomatis dan memerlukan usaha. Contoh gamblangnya yaitu ketika kita disuguhkan dengan sebuah foto wanita yang berekspresi wajah berkerut dan mata melotot, mungkin secara otomatis kita menganggap wanita itu sedang marah atau memiliki kepribadian pemarah. Dalam kasus ini mungkin kita mempersepsikan wanita itu tidak baik untuk diajak berkenalan. Ditambah lagi manusia yang memiliki sistem intuisi.


Ilustrasi di atas mungkin berlaku ketika kita bertemu dengan orang asing. Kita sama sekali tidak memiliki informasi yang lebih untuk menggambarkan orang itu seutuhnya. Sehingga, pemaknaan terhadap sebuah pertemuan hanya menggunakan data yang kita punya dalam otak dan instuisi. Instuisi kita sering mencampuri pemberian persepsi pada suatu objek. Seperti ketika kita dibuat nyaman oleh seorang sales atau penjual, mungkin kita merasa ingin membeli barang itu atau semacamnya. Hal tersebut berimplikasi pada adanya peribahasa “Kesan pertama harus mengesankan” atau yang memiliki arti demikian.

Semua itu merupakan mediator atau pihak ketiga antara kita dan orang yang kita temui dalam membuat persepsi dan makna. Namun, kadang saya berpikir secara irrasional jika dalam perhitungan kemungkinan. Saya sering mengagumi orang yang berpapasan dengan saya jika data dalam diri sophisticated dengan yang ada. Kekaguman tersebut tentunya tidak lebih, dan kadang membuat diri terpecut untuk memperbaiki diri. Karena orang yang ditemui terkadang, secara data yang saya miliki, itu memiliki grade yang tinggi. Begitupun sebaliknya, dengan kesombongan diri dan kebodohan diri ini kadang menilai orang secara kurang. Lebih jauh lagi saya memikirkan, apakah orang tersebut akan kembali bertemu dengan saya, atau akan menjadi orang penting dalam hidup saya entahlah. Terkadang saya juga memperhatikan sedikit pada orang yang bertemu dengan saya, memikirkan apa yang terjadi sebelum berpapas dan ketika berpapasan. Apakah orang tersebut memikirkan hal yang sama ?. Saya hanya ingin mengetahui apa yang mereka rasakan ketika bertemu dengan orang lain di suatu tempat, atau persepsi terhadap orang lain ketika pertama.


Namun terkadang saya juga mengabaikan orang lain. Pikiran yang bermakna terkadang muncul ketika berada dalam kerumunan dalam tempat yang ramai orang. Manusia memang unik dan memiliki perbedaan yang unik. Kita tidak bisa memukul rata manusia itu harus disamakan, kecuali dalam ketaatan bermasyarakat. Kita harus menjungjung bahwa manusia itu diciptakan agar saling mengenal satu sama lain, bukan untuk mendeskreditkan atau mencederai. Sampai saat ini saya tidak tahu makna pertemuan dengan orang lain, terutama orang yang baru pertama kali. Mungkin ini terdengan konyol bagi sebagian orang, tapi itulah keadaannya. Karena saya yakin Sang Penguasa Semesta ini mengatur segala hal memiliki sebuah makna yang perlu dibaca.

color-pencil-drawing-coloring-colored-pencils-159825
Source: Pexel

Oke untuk saat ini hanya sampai disini. Hidup ini penuh dengan warna, baik kita yang mewarnai diri sendiri, mewarnai orang lain, ataupun orang lain yang membuat hidup kita menjadi berwarna. Terima kasih.

Bagi kamu yang meiliki kritik atau saran yang sifatnya membangun blog ini dan mungkin juga ingin mengirimkan artikel atau karyanya untuk dipublikasikan di blog ini, kamu bisa mengirimkan itu ke : aripviker@gmail.com

Facebook Comments

arifkeisuke

Lebih suka melihat langit biru di antara pepohonan yang hijau.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: