Stres Membunuhmu. Kenali Definisi, Kinerja, Dampak, dan Terapinya|Serial Mengenal Stres

Yosh, Assalamualaikum. Selamat malam kembali wahai jiwa-jiwa yang tenang wkwk. Dimanapun teman-teman semoga sehat bae, dan siapkan secangkir kopi untuk membaca artikel yang cukup panjang ini hehe. Kali ini saya sengaja mempublikasikan sebuah tulisan ilmiah karena biar kuat dalam data dan menjelaskan sesuatu pada teman-teman. Namun terkadang terjadi seperti artikel saya sebelumnya: Mengapa Teori sering dikata tidak sesuai dengan praktek. Mungkin diantara kamu semua tertarik dengan bidang psikologi, terutama klinis, bisa menuntaskan serial mengenal stres ini. Untuk saat ini ada gambaran umum tentang stress yang akan dijelaskan. Selamat membaca, dan jangan bosan 😀

Stres dan Bahayanya yang Berkepanjangan

Meningkatnya perkembangan teknologi di abad ini tidak serta merta menghilangkan suatu simptom psikis ini. Malahan, pesatnya teknologi membuat ranah stress semakin meluas dan bervariasi sumbernya. Mulai dari tuntutan jaman yang sangat kompetitif dan individu dituntut untuk bekerja keras, deadline tugas perkuliahan atau perkantoran, atau kejadian-kejadian yang membuat orang trauma dsb. Semakin hari, perkembangan penyakit yang berkaitan dengan psikis lebih meningkat. Contohnya yang dikutip dari CNN (Natalia Santi, 2018) banyak para TKI di Seoul terjangkit penyakit stres ringan. Dampaknya yaitu mereka menderita koresterol dan masalah lainnya Contoh lainnya yaitu seorang pengangguran menggunakan obat sabu karena stres (Korankaltim, 2018). Karenanya, stres yang tidak terkendali akan mengarahkan seseorang pada perilaku lain yang dapat membahayakan tubuhnya.

pexels-photo-626165
Jauhi Stres berlebih, karena bisa fatal. Source : Pexel

Stres secara bahasa memiliki arti gangguan atau kekacauan mental dan emosional yang disebabkan oleh faktor luar; ketegangan (KBBI Offline, 2013). Dari definisi di atas, kbbi memberikan sebabnya yaitu faktor luar. Faktor luar atau eksternal tersebut seperti pendidikan, ekonomi, hubungan sosial dsb. Memang benar nyatanya stres disebabkan oleh faktor luar, namun ketika stres tersebut bersinggungan dengan diathesis atau prediposisi yang ada dalam diri kita, misalkan tidak kuat melawan stres, akan menimbulkan suatu penyakit.

King (2010) menyatakan bahwa stres merupakan sebagai respon individu terhadap stressor (hal yang menimbulkan stres) yang mana situasi dan peristiwa yang mengancam dan melebihi kemampuan mereka untuk mengatasinya. Dalam hal ini, setiap orang akan memiliki stres dan diharapkan mampu merespon dengan tepat terhadap stres tersebut bagi orang normal. Sedangkan bagi orang skizofrenia, ketika mendapatkan suatu stress, mereka akan masuk ke dalam episode prodormal yang mana memunculkan gejala awal skizofrenia seperti waham dsb.


Konsep stres dalam kerja sistem tubuh manusia yaitu ketika tubuh manusia tidak mengalami homeostasis. Homeostasis berarti adanya keseimbangan atau kestabilan sistem kerja dalam tubuh manusia, seperti neurotransmitter, hormon yang dihasilkan dalam tubuh. Homeostasis dibutuhkan manusia karena berfungsi untuk melanjutkan hidup manusia. Homeostsis manusia diatur oleh sistem hormonal dan sistem saraf otonom.

92385378_c0249805-brain_response_to_pain-splresize-791x445
Gambaran otak ketika merespon stimulus. Source: UNS

Otak merupakan salah satu sistem saraf otonom pada manusia. Dalam otak manusia terdapat bagian yang dinamakan dengan hipotalamus. Hipotalamus memiliki salah satu fungsinya yaitu mengatur atau memproduksi hormon. Ketika manusia dilanda stres, maka otak atau tubuh manusia akan merespon dengan memproduksi hormon Corticotropin Releasing (CR) dari jalur pituatri di hipotalamus. Kemudian salah satu dampak yang terjadi akibat diproduksinya hormon CR, akan mengaktifkan sistem saraf simpatik. Sistem saraf simpatik berperan sebagai meningkatkan kinerja tubuh manusia, contoh meningkatkan detak jantung, meningkatkan kinerja ginjal dsb (F.M. Toates, 2011; Taruna Ikrar, 2015; Kalat, 2016). Kemudian tubuh akan memunculkan norepinefrin di ujung sarafnya sebagai kerja dari sistem saraf simpatik. Salah satu contoh dampaknya adalah tekanan darah naik. Jika hal ini terus terjadi maka tekanan darah tinggi akan berdampak pada jantung manusia (Steptoe, Hamer, & Chida, 2007, dalam King, 2010). Itulah mengapa dengan stres yang berkepanjangan kondisi tubuh manusia tidak akan membaik, bahkan kematian. Stres yang berkepanjangan pula dalam dampaknya terhadap penyakit fisik terjadi karena turunnya kekebalan tubuh orang yang stres (King, 2010).

Disamping itu, dalam kajian psikopatologi, paradigma atau pendekatan yang digunakan untuk melihap seseorang yang mengidap suatu gangguan dengan diathesis-stres. Berdasarkan Zubin & Spring (1997, dalam Ann M. Kring dkk, 2012) konsep dari diathesis-stres diperkenalkan pada tahun 1970an sebagai cara untuk menentukan sebuah sebab dari gangguan skizofrenia. Konsep dari diathesis-stress merupakan pendekatan yang integratif, karena memadukan genetik, neuribiologi, psikologi, dan faktor lingkungan. Diathesis merupakan prediposisi atau sesuatu yang ada dalam diri manusia secara genetik akan berinteraksi dengan lingkungan, yang mana terdapat stres didalamnya (Ann M. Kring, dkk, 2012). Ini menunjukan bahwa stres ikut andil menyumbangkan pengaruh kepada gangguan psikis, seperti anoreksia, gangguan penyalahgunaan zat, kepribadian ganda dsb.


Seperti yang telah dijelaskan di atas, stres yang berdampak pada sistem tubuh diatur dari otak lebih tepatnya dalam hipotalamus. Fungsi lain hipotalamus adalah untuk menanggapi sesuatu yang bersifat emosional (Ratna Mardiati, 2010; Taruna Ikrar, 2015). Ini berarti persepsi atau bagaimana orang berespon terhadap stres, seperti dalam penjelasan diathesis, bisa menghantarkan pada jalannya. Diathesis sendiri dipengaruhi oleh lingkungan juga, yang mana dalam lingkungan pembentukan persepsi juga mempengaruhi pada diri manusia. Dalam teori belajar sosial Albert Bandura, orang akan terkena stres berkepanjangan bergantung pada apa yang dia pikirkan tentang stressor tersebut. Maksudnya adalah jika sebuah stressor dipersepsikan atau dalam kognisi seseorang itu tidak dapat dikontrol, mereka akan cenderung memburuk sistem imunnya atau stresnya tidak terselesaikan (Walter Mischel, dkk, 2008). Teori ini menjelaskan bahwa bagaimana kita memandang sebuah stres tersebut dalam ranah Locus of Control internal atau eksternal. Internal dalam artian aspek pribadi yang susah untuk dikontrol karena menjudge diri bodoh misalnya, dan aspek eksternal yang bisa dikontrol karena pengaruh dari luar.

Disisi lain, dalam kajian teori psikodinamika, seseorang yang sedang mengalami konflik atau stres akan melakukan mekanisme pertahanan diri. Jika seseorang tidak kuat menahan beban atau menghadapi stres kemudian melakukan repression, maka masalah tersebut akan masuk ke dalam alam bawah sadar. Ketika suatu masalah atau stressor yang tidak kuat ditangani dimasukan ke dalam alam bawah, diawal mungkin akan merasa lega karena masalah tersebut terlupakan. Namun, itu masih mengendap ada di alam bawah sadar seseorang. Ini bisa menjadi awal atau penyebab dari gangguan psikologis yang lebih serius. Seperti orang yang terkena konversi (Kelumpuhan dalam fisik, namun tidak terdiagnosis masalah fisik tersebut). Singkatnya tangannya lumpuh, tapi tidak ada indikasi bahwa cedera di tangan. Ini bisa saja terjadi jika seseorang yang terkena konflik psikis dan meredam masalahnya ke alam bawah sadar. Sehingga demi menentramkam kondisi psikisnya dikorbankan dengan kelumpuhan fisiknya. Contoh gangguan lain karena repression adalah Amnesia Dissosiatif (Fugue Dissosiatif), Dissosiatif Disorder (Kepribadian Ganda), skizofrenia dan yang lainnya.

akibat depresi
Semakin sering stres dan depresi, kemampuan otak dalam mengingat akan menurun. Source : Walter Mischel, Intorudction to Personality toward an integrative science of person.

Dampak dari stres yang mengendap memang sangat mengerikan, bahkan sampai kematian. Domain yang terkena dampak stres adalah bisa fisik dan psikis. Dampak dalam fisik adalah ketika seseorang mengalami stres yang berkepanjangan kemudian berubah menjadi depresi akan terjadi The lack of Memory atau penurunan memori. Ini karena durasi depresi atau depresi mayor yang dialami oleh seorang individu akan sejaran dengan penurunan volume hippokampus di otak. Peran dari hippokampus adalah pusat dari segala ingatan atau memori manusia (Sheline, Y., Wang, P. W., dkk, 1996, dalam W. Mischel, 2008). Gangguan secara psikis lainnya yaitu Anoreksia, Bulimia Nervosa, Gangguan penyalah gunaan zat, Gangguan somatoform, Dissosiative Disorder, Skizofrenia dsb.

pexels-photo-103123
Hidup secara positif. Source : Pexel

Dari semua masalah di atas, tentunya itu semua bisa dihindari dan dicegah. Ini tidak terkecuali bagi masalah stres juga. Stres dalam artian yang akan memunculkan kondisi di atas adalah stres yang berkepanjangan dan tidak diselesaikan. Di samping itu masih banyak hal yang berguna dengan keberadaan stres. Seperti yang telah disinggung di awal, stres bisa jadi motivasi bagi seseorang, seperti lebih giat karena takut tidak mendapatkan gratifikasi misalkan atau takut gagal. Sehingga akan mengarahkan individu pada penyelesaian atau respon terhadap stressor yang diharapkan oleh lingkungan. Namun, jika individu sudah mengalami stres yang berkepanjangan, diharapkan untuk segera berkonsultasi kepada tenaga ahli ataupun mencari dukungan dari orang terdekat.

Terapi atau pencegahan terhadap masalah yang ditimbulkan oleh stres bisa dari hal yang mudah yaitu berpikir positif. Artinya, respon terhadap lingkungan yang penuh stres dengan pandangan negatif, suram, tidak ada harapan akan rentan terkena penyakit stres. Ketika kita ingin melakukan sesuatu dan pikiran kita yakin bahwa kita bisa maka kita akan mengerahkan pikiran kita pada hal itu, ini dinamakan Self-Efficacy. Self-Efficacy yaitu keyakinan dalam diri bahwa kita bisa melakukan sesuatu. Dan sebagai seorang yang beragama, kita harus yakin bahwa Allah tidak akan menguji seseorang melebihi batasnya.

pexels-photo-941693
Tetaplah optimis. Source : Pexel

Kemudian, dalam kognisi orang yang mengalami stres harus bisa diubah. Karena biasanya mereka terkungkung dalam jeratan pikiran sendiri. Mereka memandang masalah atau menyimpulkan suatu hal dalam stabilitas yang tidak bisa diubah. Artinya, sudah pesimistis bahwa dirinya sudah terlanjut depresi atau stres. Jadi, pengubahan cara berpikir tentang penyebab ataupun masalah tersebut harus diubah. Pencegahan lainnya yaitu menerima diri sendiri. Menerima diri sendiri artinya mengenali apa itu self. Dalam kajian humanisme, manusia merupakan makhluk yang bisa bertanggung jawab, bebas bertindak, dan berkehendak. Disamping itu, individu bisa menghargai dirinya dan pengalaman-pengalaman yang telah dilaluinya. Penerimaan tersebut ditunjukan dengan rasa bahwa segala hal yang telah dialami merupakan bagian dari perjalanan hidup yang besar.

Terakhir yaitu bersyukur, membenci dan mencintai sewajarnya. Artinya, berdasarkan telaah terhadap tulisan Ann M. Kring dkk, patologis yang terjadi karena mereka terlalu membenci dan mencintai dalam ketidakwajaran. Dalam Islam, kita haruskan untuk mencintai atau membenci sewajarnya dalam urusan duniawi. Karena ketika hal itu ditarik dari kehidupan individu, dampaknya akan sangat merasa kehilangan dan stres berkepanjangan. Contohnya yaitu gangguan amnesia disosiatif. Gangguan ini yaitu hialngnya ingatan seseorang, baik identitasnya, keluarga, atau lingkungan sekitar setelah kejadian yang penuh dengan stres. Sebagai seorang muslim yang taat kita tidak boleh pesimis terhadap ketentuan Allah. Oleh karenanya, Allah memerintahkan kita berdoa untuk dijauhkan dari hamm dan hazan karena akan menghentikan segala aktivitas kita.

Hanya itu yang bisa saya sampaikan untuk saat ini, semoga teman-teman terhindar dari stres yang berlebihan. Tetap jalani hidup secara sehat baik psikis atau fisik. Jangan lupa tersenyum dan berpikir positif. Terima kasih 

Bagi kamu yang memiliki kritik atau saran yang sifatnya membangun blog ini dan mungkin juga ingin mengirimkan artikel atau karyanya untuk dipublikasikan di blog ini, kamu bisa mengirimkannya ke e-mail : Aripviker@gmail.com

Daftar Pustaka

Ikrar Taruna (2015), Ilmu Neurosains Modern, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Kalat W. James (2016), Biological Psychology, Boston: Cengage Learning. Retrieved from googledrive.

King A. Laura, Terj. Marwensdy B, Psikologi Umum Sebuah Pandangan Apresiatif Buku II, Jakarta: Salemba Humanika, 2012.

Koran Kaltim, “Pengangguran Nyabu Alasannya Stres”, Korankaltim, 02-05-2018, korankaltim.com.

Kring M. Ann, dkk. (2012), Abnormal Psychology, New Jersey: John Wiley and Sons.

Mardiati Ratna (2010), Buku Kuliah Susunan Saraf Otak Manusia, Jakarta: Sagung Seto.

Mischel W., Shoda Y., & Ayduk O., (2008), Introduction to Personality toward an Integrative Science of the Person, New Jersey: John Wiley & Son.

Natalia Santi, “Kolesterol Gula dan Stres Ringan Penyakit TKI di Korsel”, CNN Indonesia, Selasa, 01-05-2018, www.cnnindoensia.com

Toates M. Frederick (2011), Biological Psychology, Essex: Pearson Education Limited. Retrieved from b-ok.org.

Facebook Comments

arifkeisuke

Lebih suka melihat langit biru di antara pepohonan yang hijau.

3 thoughts on “Stres Membunuhmu. Kenali Definisi, Kinerja, Dampak, dan Terapinya|Serial Mengenal Stres

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: