Bahagia itu Dekat di Sekitar Kita, Sudahkah Kita Bahagia?

Pendahuluan

Yosh, Selamat Pagi. Kali ini saya arifkeisuke.com akan memuat artikel mengenai bahagia itu dekat di sekitar kita, sudahkah kita bahagia?. Semoga dipagi yang cerah ini, bisa mencerahkan hati-hati kamu semua.

Bahkan loh, berdasarkan penelitian ketika orang mengawali pagi hari dengan positif atau dilingkupi sesuatu yang positif, waktu berikutnya akan lebih produktif loh. So, simak artikelnya lebih jauh lagi kuy supaya kita bahagia.

Kalau kamu berkenan kamu bisa mengisi survey kebahagiaan di sini [Formulir kebahagiaan]

Bahagia itu Dekat di Sekitar Kita

Bahagia itu dekat di sekitar kita loh. Source: Pexels

Bahagia memang merupakan dambaan bahkan menjadi tujuan hidup seseorang. Untuk merealisasikannya orang rela melakukan beragam cara. Karena kebahagiaan disinyalir dapat menentramkan, menenangkan, mensyahdukan kehidupan, terutama dalam sisi psikis. Sehingga setiap orang berlomba-lomba untuk memiliki dan tidak membiarkan pergi kebahagian dari dirinya.

Baca juga: Stres Membunuhmu. Kenali Definisi, Kinerja, Dampak, dan Terapinya|Serial Mengenal Stres

Lalu pertanyaannya yaitu apakah kita sudah bahagia? Apa yang membuat kamu bahagia? Apa yang perlu dilakukan agar menjadi bahagia? Memang mengukur kebahagiaan merupakan perihal yang cukup sulit. Ini disebabkan kadar kebahagiaan tiap orang berbeda.

Ada orang yang bahagia hanya karena mendapatkan istri banyak, tapi bagi orang lain mungkin itu masih belum membuatnya bahagia. Sehingga kebahagian merupakan manifestasi buncahan perasaan subjektif seseorang. Itu bisa dilihat dari perbedaan rasa bahagia setiap orang. Karenanya, setiap orang perlu mencari apa yang membuatnya bahagia.

Sebuah Cerita Tentang Kebahagiaan

Sedikit bercerita jika pertanyaan itu diajukan pada diri, apakah saya bahagia? Apa yang membuat saya bahagia? Apa yang perlu dilakukan agar saya menjadi bahagia? Pertanyaan tersebut memang sulit dijawab, dan memerlukan kesadaran diri dan pengenalan diri. Ditambah terlihat jelas bahwa pertanyaan tersebut pasti akan mendapat respon beragam dari tiap kepala. Karena mengandung pemaknaan subjektif.

Kebahagiaan merupakan perasaan subjektif

Mulai dari yang pertama, ketika saya ditanya bahagia, mungkin jawabannya akan tergantung situasi terdekat dengan pengajuan pertanyaan tersebut seperti apa. Namun saat ini saya sedikit kurang bahagia. Akan tetapi perasaan tersebut pasti akan berubah beberapa saat setelahnya. Ini dikarenakan kita tidak akan terlepas dari pengaruh lingkungan yang stressful.

Ini karena kita harus bisa beradaptasi dengan lingkungan seperti dalam salah satu dimensi kesehatan menurut Jahoda (Jahoda Marie, 2010). Jadi lingkungan akan menuntun kebahagiaan kita serta bagaimana kita mempersepsikan lingkungan tersebut.

Baca juga: Hidup Terus Mengeluh dan Sulit Bersyukur ?. Lihat dan Lakukan 7 Hal ini Sekarang Juga

Ketika sekarang ditanya bahagia, saya merasa kurang bahagia. Karena saya mempersepsikan diri dan lingkungan atau realita dengan pandangan negatif. Terlalu sering mengeluh terhadap suatu hal merupakan manifestasi ketidakbahagiaan tersebut. Namun jika melihat dari Teori Authentic Happiness Martin Seligman bukan berarti tidak puas terhadap hidup (2002). Tetapi hanya mengeluh terhadap stresor, dan mencari bagaimana koping terhadap stres terbaik.

Haltersebut bukan lah sesuatu yang abnormal. Stres dalam hidup merupakan suatu halyang wajar, dan membutuhkan waktu untuk beradaptasi kembali bagi sebagianorang. Ini merupakan bagian dari proses menuju pada mental yang sehat menurutasepk dari Jahoda tadi, yang mana diuji juga resistensi terhadap stres. Selainitu, jika dipandang dengan kacamata teori salutogenesis Antonovsky, keadaan inimerupakan hasil dari tekanan stressor yang menyebabkan tension.

Baca juga: Mengoptimalkan Potensi Sistem Saraf Untuk Kebahagiaan 

Tension merupakan awal percabangan baik menuju kondisi sehat atau salutogenesis dan sakit atau pathogenesis. Karenanya, setiap orang pasti memiliki keadaan demikian dan bagaimana kelanjutannya tergantung bagaimana kemampuan dirinya dalam menghadapi stres tersebut (Lindstrom G. Eriksson, 2010).

Apa yang Membuat bahagia?

Aktualisasikan diri merupakan cara untuk bahagia. Source: Pexels.com

Pertanyaan selanjutnya yaitu tentang apa saja yang membuat saya bahagia. Sesuatu yang membuat bahagia setiap orang akan berbeda-beda, tergantung apa yang mereka tujukan. Ketika berbicara mengenai ini, saya sering merasa bahagia ketika mengetahui sedikit dari yang banyak dan bisa melakukan apa yang diinginkan.

Mengetahui sedikit dari yang banyak berarti bisa tahu ilmu yang Maha Tahu yang begitu luasnya. Kebahagiaan diri akan terpancar ketika mengetahui rahasia-rahasia ilmu-Nya yang luas. Terlebih ketika bisa bermanfaat dengan ilmu tersebut untuk orang lain, dan bisa berbagi ilmu bersama mereka. Ini dikuatkan dengan ketika tidak tahu suatu hal dan terbayang kebodohan di masa mendatang, akan membuat saya merasa penuh dalam tekanan. Sehingga mencoba untuk mengetahui sedikit rahasia-rahasia-Nya yang luas akan mengantarkan saya pada kebahagiaan.

Baca juga: Resensi buku ilmu hidup, perjalanan rumi menjadi seorang sufi dan anaknya Kimya.

Kemudian bisa melakukan apa yang diinginkan berarti bisa mengaktualisasikan suatu harapan. Kembali merujuk pada tulisan Jahoda, salah satu ciri orang yang memiliki mental yang sehat yaitu adanya self-actualization  of one`s potential. Bisa mengaktualkan diri atau memenuhi potensi diri akan menghantarkan pada kebahagiaan, bahkan mental yang sehat. Sebagai contoh yaitu ketika hendak ingin menulis dan membaca namun didistrak hal yang lain terkadang akan membuat saya cukup stres menghadapi stressor.

Satu lagi yaitu keluarga. Berdasarkan survey kecil-kecilan yang pernah saya buat tahun lalu mengenai kebahagiaan dari 14 responden yang bersedia menjawabnya, rata-rata mengungkapan kebahagiaan datang dari keluarganya. Alasannya keluarga sebagai orang yang sering mendukungnya, tempat berkumpul, dan tempat untuk kembali. Jadi, memanfaatkan waktu bersama keluarga dan orang terdekat merupakan sumber kebahagiaan bagi saya dan orang lain juga mengungkapkan demikian.

Bagaimana supaya bahagia?

Terakhir apa yang perlu dilakukan supaya bahagia. Kebahagiaan memang perlu dicari. Di dunia ini setiap manusia memiliki kesibukan masing-masing seperti sibuk mencintai perempuan, mencari harta, menuntut ilmu dsb. Mereka meyakini bahwa kesibukannya merupakan obat kebahagiaan.

Dalam buku Rumi menjelaskan bahwa mereka berasumsi bahwa harus mencari obat tersebut dengan sungguh-sungguh demi bahagia dengan obat tersebut. Hingga mereka terus mencarinya meski sudah dalam pencarian pertama, kedua, bahkan ketiga kalinya. Sampai kepada kebahagiaan itu datang dan menyingkap selubungya dari Allah Swt. Dari sana mereka sadar bahwa jalan yang ditempuh merupakan sebuah kesia-sian (Jalaludin Rumi, 2014).

Baca juga: Putuskanlah Apa yang Harus Kau Putuskan, Janganlah Ragu Wahai Anak Muda!

Jalan yang ditempuh saya untuk mencapai kebahagiaan yaitu pertama dengan menyelesaikan masalah sendiri dengan meminta bantuan keluarga ataupun teman dekat ketika dalam masa tension. Ketika masih tidak didapat penyelesaian, jalan yang perlu ditempuh yaitu dengan mendekatkan diri kepada-Nya. Karena dimensi manusia tidak hanya perihal biologis, psikis, sosial budaya saja melainkan adanya dimensi fitrah.

Fitrah manusia yang kecenderungan percaya atau kembali kepada Allah akan mengantarkan kuat pada ketenangan batin. Karena seyogyanya kebahagiaan yang hakiki adalah tercapainya ketenangan batin dan bisa kembali ke sisi-Nya. Oleh karena itu, kebahagian sebenarnya dekat bahkan sangat dekat dengan diri kita sendiri. Namun kita perlu mencarinya dengan jalan benar dan komprehensif.

Penutup

Jangan lupa bahagia guys

Seperti itulah cerita tentang kebahagiaan bahwa bahagia itu dekat di sektiar kita. Semoga dengan sedikit cerita atau analogi bisa meningkatkan kebahagiaan kita. Karena ketika kita bahagia, kesehatan mental kita juga akan meningkat. Kemudian jika hal itu terjadi, semangat untuk hidup dan pencarian makna hidup akan terus berlanjut. Terima kasih. Tunggu artikel selanjutnya mengenai Enam Kriteria Kebahagiaan Menurut Jahoda, untuk meningkatkan kesehatan mental kamu.

Bagi teman-teman yang memiliki kritik atau saran yang bersifat membangun blog ini dan mungkin juga inign mengirimkan artikel atau karyanya untuk dipublikasikan di website ini kamu bisa mengirimkan itu ke e-mail: aripiker@gmail.com

Daftar Pustaka

Eriksson M. Landstrom, “The Hitchhiker`s Guide to Salutogenesis, Folkhalsan Health Promotion Research Report”, 2010.

M. Jahoda, (2010), Current Concepts of Positive Mental Health, Florida: University of Florida Libraries.

Rumi J., Ter., Fihi Ma Fihi, Yogyakarta: Forum, 2014.

Seligman Martin, 2002, Flourish: A Visionary New Understanding of Happiness and Well-Being, William Heinemann Australia

Formulir survey kebahagiaan, https://goo.gl/forms/0HIKAEKzfdpHbBeb2 ,

Facebook Comments

Arif Keisuke

Lebih suka melihat langit biru di antara pepohonan yang hijau.

2 tanggapan untuk “Bahagia itu Dekat di Sekitar Kita, Sudahkah Kita Bahagia?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: