Menumbuhkan Rasa Toleransi yang Dimulai dari Diri dan Kognisi di Tahun Politik

Pendahuluan

Yosh, Selamat pagi. Kali ini Arifkeisuke.com akan memuat artikel mengenai Menumbuhkan rasa toleransi yang dimulai dari diri sendiri dan kognisi di Tahun politik.

Mungkin sudah banyak dari kita menyaksikan banyaknya ujaran kebencian dan intoleran terukhusus di media maya. Polarisasi pihak dan kontestasi ambisius dengan beragam alasannya menjadi kambing hitam beberapa pihak. Apa kamu termasuk yang sering mencela orang, bahkan membuat sumpah serapah?.

Baca juga: Bahagia itu Dekat di Sekitar Kita, Sudahkah Kita Bahagia?

Yuk mulai menahan diri dan coba baca artikelnya hingga tuntas!

Menumbuhkan rasa toleransi yang dimulai dari diri sendiri dan kognisi di tahun politik

Berbicara mengenai Indonesia memang tidak akan pernah ada habisnya. Wilayah Indonesia yang membentang jauh merupakan rumah bagi beragam budaya, suku, agama, bahasa dan lainnya. Mereka tinggal disana dan bersatu padu di bawah panji bendera Indonesia raya. Karenanya untuk mencapai kesatuan tersebut perlu dipupuknya rasa toleransi antar warga di Indonesia.

Ilustrasi otak manusia
Menumbuhkan toleransi bisa dimulai dari diri terutama kognisi. Source: Pexels.com

Tahun ini merupakan tahun politik bagi bangsa Indonesia. Isu yang merebak baik di media maya atau dunia nyata yaitu diangkatnya isu agama dalam perpolitikan kali ini. Agama merupakan kepercayaan yang mengakar secara emosional bagi setiap warga Indonesia. Pemangku kepentingan sering kali memanfaatkan sentimen tersebut. Ditambah mudahnya masyarakat yang tersulut emosinya, sehingga ujaran kebencian dan intoleran antar kelompok sering muncul terutama di media sosial.

Toleransi antara kaum umat beragama meski beda kepentingan harus dikedepankan dan dijunjung tinggi. Kehidupan yang multi agama merupakan sebuah potensi untuk saling bekerja sama dalam membangun bangsa. Karena seyogyanya kita adalah saudara satu bangsa dan negara yang harus saling mencintai satu sama lain. Untuk mencapai kondisi masyarakat majemuk bertoleran haruslah dimulai dari individu, lebih tepatnya dalam proses kognisi sosial individu.

Baca juga: Sudahkah Kita Belajar? Apasih arti sesungguhnya belajar itu?

Kognisi sosial merupakan bagaimana individu berpikir dan berafeksi tentang orang lain, sehingga akan mempengaruhi perilakunya terhadap orang lain, begitupun orang lain terhadapnya (Gazi, 2015). Menggunakan kognisi berarti seseorang memproses informasi yang dirangsang dari luar, hingga akan menjadi sikap dan perilaku. Ini berarti segala tindakan dan sikap manusia bisa ditelusuri dari bagaimana seseorang menggunakan kognisinya.

Proses kognisi sendiri dimulai dengan seseorang menerima informasi mengenai gejala-gejala sosial di sekelilingnya (Attention). Informasi yang menjadi fokus seseorang akan disimpan ke dalam memorinya di otak (Encoding). Terakhir pembuatan persepsi mengenai informasi yang didapat dan diasosiasikan dengan informasi yang sudah ada dalam memorinya (Retrieval). Proses ini lazim dan dilakukan setiap hari oleh manusia. Karena manusia adalah mesin pembuat persepsi, dan perilaku serta sikap mereka terhadap diri dan orang lain bergantung padanya (Gazi, 2015).

Baca juga: Menyingkap Makna Bertemu dengan Orang Lain. Hanya Kebetulan atau Penuh Makna ?

Kognisi berperan pada manusia untuk menafsirkan, menganalisis dan mengingat informasi tentang dunia sosial di sekitarnya. Namun, pengolahan informasi tersebut akan dipengaruhi juga oleh stereotip. Sederhananya, stereotip dimana orang akan mengeneralisasikan karakteristik dari satu individu ke dalam suatu kelompok (Laura King, 2017). Pandangan ini umumnya akan melibatkan rasa intoleran terhadap suatu kelompok. Karena demikian disebabkan oleh kurangnya informasi terhadap suatu kelompok dengan tidak melihat variasi dalam suatu kelompok. Implikasinya yaitu orang akan memiliki sikap tidak suka terhadap suatu kelompok, dan orang akan curiga karena kesalahan dalam memproses informasi dalam kognisinya.

Dampak tidak toleran
Hati-hati menjudge orang lain, bisa memecahkan sesuatu. Source: Pexels.com

Stereotip bisa dipengaruhi oleh efek motivasi identitas diri yang terinduksi ke dalam suatu kelompok dalam atau in-group. Efek ini dijelaskan dengan proses in-group favoritism atau fanatik terhadap kelompok sendiri dalam psikologi. Menurut Tajfel dan Billig (dalam Yudi Siswanto, 2014) in-group favoritism memiliki kecenderungan dimana individu memanifestasikan suka pada in-group dan menilai kelompok lain lebih rendah daripada kelompoknya. Ini akan mempengaruhi bagaimana individu menggunakan kognisi sosialnya.

Dari penjelasan tersebut bisa menjelaskan fenomena ujaran kebencian di media sosial, terutama di tahun politik ini. Didasarkan pada pengamatan sendiri dalam beberapa media sosial, penulis melihat banyak sekali ungkapan kebencian antar warga Indonesia yang notabene adalah umat beragama. Ungkapan kebencian itu diwujudkan dalam bentuk makian, hinaan, bahkan pelabelan “sesat” pada seseorang atau kelompok. Sangat disayangkan kerukunan beragama dalam bernegara mudah tersulut kognisinya ketika kelompoknya atau In-group terusik oleh out-group.

Baca juga: Tinjaun dan Peran Keluarga Terhadap Pemberian Smartphone dan Internet Pada Anak

Fenomena tersebut disebabkan oleh penggunaan kognisi sosial individu yang telah tercampuri stereotip dan prasangka buruk. Individu menafsirkan kelompok luar adalah sesuatu yang perlu digulingkan atau disingkirkan. Hal ini karena individu telah kehilangan identitas diri, dan identitasnya melebur ke dalam kelompoknya. Itu juga diperparah karena kurangnya pengetahuan tentang kelompok luar, informasi yang didapat cenderung kurang representatif, dan adanya prasangka buruk pada kelompok luar. Manifestasi dari perilaku tersebut yaitu individu akan mengalami identifikasi sosial pada suatu kelompok dan melahirkan fanatik buta. Akibatnya cahaya toleransipun sirna karena kesalahan menggunakan kognisinya.

Sebagai negara beragama, warga negara Indonesia harusnya menampakan nilai-nilai religiusitas disetiap perbuatan dan sikapnya. Dalam ajaran agama, tentunya tidak ada ajaran yang mengharuskan saling menghunuskan pedang di kala kondisi damai. Sebagai contoh ajaran Islam yang merupakan rahmatan lil `alamin, yang mana Islam merupakan kasih sayang bagi seluruh alam. Alam yang dimaksud adalah segala sesuatu yang ada di alam semesta, termasuk manusia, hewan, tumbuhan dan yang lainnya. Begitupun dalam agama Buddha yang mengajarkan Metta atau kasih sayang kepada semua makhluk. Baik itu makhluk hidup atau mati. Ajaran Kristenpun tidak lepas dari kasih sayang, begitu juga dengan agama lainnya.

Kedamaian
Bukankah damai lebih baik daripada bersitegang terus?. Source: Pexels.com

Pemrosesan kognisi individu harusnya dimasukan nilai agama dan toleransi. Pembuatan persepsi yang berimbang kepada kelompok lain dengan cara mengkritisi informasi sebelum bertindak. Ketika individu menggunakan kognisinya dengan memasukan nilai-nilai agama dan secara kritis, implikasinya yaitu akan tercipta rasa toleransi. Toleransi yang diawali dengan sadar diri dan peduli sesama.

Karena sudah secara gamblang termaktub dalam ajaran kepercayaan masing-masing yang harus saling mengasihi satu sama lain. Jika hal tersebut dirasa kurang mewakili, kita bisa membuat alasan untuk berharmoni dalam beragama karena berada dalam satu naungan tanah air Indonesia. Semua warga Indonesia merupakan saudara, yang mana kita harus bisa memiliki sikap empati. Sikap tersebut akan mengantarkan kita merasakan derita sesama saudara Indonesia tidak pandang agama. Lebih jauh lagi, kita hidup sebagai manusia harus memiliki rasa saling mencintai sesama dan nilai-nilai kemanusiaan.

Baca juga: Stres Membunuhmu. Kenali Definisi, Kinerja, Dampak, dan Terapinya|Serial Mengenal Stres

Hasil akhirnya yaitu individu akan masuk ke dalam kelompok, namun tetap menjunjung keterbukaan dan berempati pada kelompok luar atau out-group. Sehingga, meskipun keadaan negara sedang panas dalam beragam isu, individu harus menggunakan kognisi sosial dengan melibatkan nilai-nilai kasih sayang agama, kemanusiaan, dan saudara sebangsa. Dengan begitu, Indonesia akan memiliki sumber daya manusia yang memiliki kepentingan bersama yaitu membangun Indonesia raya. Kehidupan yang selaras berharmonipun akan tercipta di Indonesia.

Penutup

Kedamaian
Yuk mulai bertoleransi dan hidup damai untuk menggapai kebahagiaan dan meaning life. Source: Pexels.com

Mungkin apa yang dibahas kali ini cukup sampai di sini. Artikel ini memang tidak mengupas terlalu dalam, namun mungkin bisa jadi bahan pijakan kamu untuk melangkah dan mendalami lebih dalam lagi apa yang sedang kamu cari. Seyogyanya ketika ingin bertoleransi kita harus bersabar dan menahan diri. Menguasai dimensi nafs diri merupakan kunci utama bertoleransi pada pendapat orang.

Terima kasih.

Bagi teman-teman yang memiliki kritik atau saran yang bersifat membangun blog ini dan mungkin juga ingin mengirimkan artikel atau karyanya untuk dipublikasikan di website ini, kamu bisa mengirimkan itu ke alamat e-mail : Aripviker@gmail.com

Daftar Pustaka

Gazi, (2015), Mengenal Teori-Teori Psikologi Kontemporer, Ciputat: UIN Press.

King, Laura A., (2017), The Science pf Psychology : an Appreciative View, New York : McGraw-Hill.

Siswanto Y., “In-Group Favoritism Pada Mahasiswa Aktivis Ditinjau dari Kostrual Diri Independen-Interdependen”, Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan, Vol. 02, No.01, Januari 2014.

Facebook Comments

Arif Keisuke

Lebih suka melihat langit biru di antara pepohonan yang hijau.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: