Mengukur Tingkat Kebahagiaan dan Kesehatan Mental Diri Sendiri dengan Teori Jahoda

Pendahuluan

Kali ini Arif Keisuke akan memuat artikel mengenai seri kebahagiaan yaitu mengukur tingkat kebahagiaan dan kesehatan mental diri sendiri dengan teori Jahoda. Teori ini menjelaskan secara dimensional mengenai gambaran orang yang sehat.

Bagi kamu yang ingin mengetahui tingkatan kebahagiaan dan kesehatan mental diri sendiri terutama menggunakan teori Jahoda, kamu harus membaca artikel ini hingga tuntas ke bawah kuy!

Kesehatan Mental

Meningkatkan kesehatan mental bisa dengan berkontemplasi. Source: Pexels.com

Kesehatan mental merupakan suatu komponen penting dalam hidup ini. Dengan kesehatan mental digadang kita akan memiliki hidup yang lebih bahagia dan bermakna. Sebagai contoh kamu bisa membandingkan ketika melihat orang dengan kondisi kesehatan yang dihinggapi penyakit kronis, namun ada yang tabah menghadapinya. Di sisi lain ada orang yang menderita karenanya menyumpah serapahi penyakitnya.

There is no real health without mental health

BS 406

Sejalan dengan quots di atas, mental yang sehat merupakan kesehatan yang utuh. Meskipun secara fisik terlihat bugar dan sehat, tapi jika di dalam dirinya terganggu atau depresi tentunya hidupun tidak akan terasa menyenangkan. Mengenai kesehatan fisik dan mental, perlu kamu ketahui ketika kondisi mental kita buruk, katakanlah stres berlebihan yang berujung depresi, ini akan memicu kesehatan fisik loh.

Baca juga: Bahagia itu Dekat di Sekitar Kita, Sudahkah Kita Bahagia?

Sistem kerja tubuh kita, terutama organ dalam, berpusat pada otak atau pikiran kita. Karena itu, ketika kamu stres dan itu berada dalam alam pikir, akan membuat jantung kamu berdetak kencang. Ini bisa memicu serangan jantung koroner atau sejenisnya. Contoh kongkrenya yaitu ketika tidak punya uang, tapi kita tetap happy dengan situasi dan mensyukuri setiap nikmat-Nya.

Yang ingin saya sampaikan yaitu jangan pernah mengabaikan kesehatan mental kita. Di samping perhatian kamu pada kesehatan fisik. Dengan mental yang sehat kita bisa mengaktualisasikan potensi dalam diri, hidup menjadi termotivasi, dan bermakna.

Oke deh, yuk cari tahu bagaimana menganalisis kesehatan mental diri sendiri dengan enam kriteria dari Jahoda!.

6 Kriteria kesehatan mental yang ideal dari Jahoda

Positive attitudes towards the self

Point pertama yang kamu bisa analisis adalah kira-kira sikap positif terhadap diri sendiri atau self. Sikap tersebut berupa penilaian positif pada konsep diri dan identitas diri. Konsep diri merupakan kumpulan kepercayaan mengenai diri sendiri seperti bagaimana mempersepsikan diri pada perilaku, kemampuan, emosi dsb.

Mampu bertahan dan mengenali diri di berbagai situasi. Source: Pexels.com

Secara jelasnya konsep diri bisa diukur dengan mengetahui dan menyadari peran yang dimainkan atau peran dirinya, perbandingan dengan orang lain, dan mampu mendefinisikan sukses dan gagal tentang diri. Orang yang sehat akan memiliki sikap positif dengan mampu memiliki self-confidence (kepercayaan diri), self-respect (menghormati diri), self-resilience (daya tahan diri atau sabar), dan self-acceptance (menerima diri).

Baca juga: Siapa Kamu Sebenarnya?

Cerminan secara jelas dalam kepemilikian sikap positif pada diri yaitu mampu belajar dan hidup serta menerima kekurangan diri meskipun sedang menderita suatu penyakit. Ini menunjukan bagaimana adanya perbedaan antara orang yang memiliki penyakit kronis namun sehat secara mental. Menurut Jahoda, kita harus mengetahui dan menyadari secara sadar apa yang kita lihat. Artinya apa dilihat kita, itulah diri kita.

Jadi kita harus sebisa mungkin memandang diri secara positif, walaupun menyadari banyak kekurangan dan keterbatasan.

Self-Actualization of one`s potensial

Selalu berpikir positif supaya potensi teraktualisasi. Source: Pexels.com

Aktualisasi diri merupakan motivasi atau kebutuhan tertinggi dalam teori Maslow. Aktualisasi berarti kita mampu mengisi atau mewujudkan potensi diri kita. Kebutuhan tersebut terlepas dari kebutuhan yang rendah seperti karena ingin mendapat makan, kasih sayang, pujian atau lainnya [Baca Heirarki Motivasi Maslow].

Menurutnya kita sebagai manusia sudah diberkahi oleh potensi, dan memang benar adanya. Kita telah diberikan potensi yang berbeda-beda oleh sang Maha Pencipta. Sehingga ketika kamu sehat secara mental mampu mengaktualkan itu. Misalkan kamu memiliki bakat atau potensi dalam bidang penelitian, kamu mencurahkan diri untuk penelitian. Motivasi yang mendasari diri kamu hanya karena ingin memuaskan diri ataupun dengan melakukan hal tersebut.

Baca juga : Mengoptimalkan Potensi Sistem Syaraf untuk Kebahagiaan

Ketika kita memiliki kesehatan mental yang buruk, potensi yang dimiliki diri tidak akan terealisasikan secara utuh. Sehingga kita cenderung untuk menjaga diri kita, bahkan tidak mampu mengetahui potensi dirinya apa. Yuk cari tahu potensi diri kita sendiri, jangan terpaku pada orang lain.

Resistance to stress

Mampu mereduksi stres. Source: Pexels.com

Karakteristik orang sehat secara mental lainnya yaitu mampu bertahan atau melawan stres. Orang yang sehat mental akan mampu mengembangkan strategi koping (penyelesaian atau melawan) dan mampu menghadapi situasi stres. Tuntutan kerja, sekolah, kuliah, kehidupan dsb merupakan sumber dari stres atau stressor. Ketika kita mampu melewati semua tekanan dan tuntutan tersebut dengan menyelesaikannya secara tuntas, kita akan terhindar dari gangguan psikis lainnya.

Baca juga: Stres Membunuhmu. Kenali Definisi, Kinerja, Dampak, dan Terapinya|Serial Mengenal Stres

Ketika stres itu menahun atau menetap dalam diri, dampak yang akan terjadi sangat mengerikan. Banyak sekali gangguan psikis yang dimulai dari ketidakmampuan menghadapi stres. Dengan itu, kita harus mampu memiliki banyak strategi menghadapi stres.

Personal autonomy

Otonomi secara personal aritnya kita mampu bertahan terhadap situasi yang keras ataupun stres. Sama seperti sebelumnya, kita mampu menyelesaikan permasalahan ataupun tugas yang sesuai dengan peran kita secara tuntas. Kita juga harus mampu bertanggung jawab dan mempercayai kemampuan diri untuk bertahan melewati situasi tersebut. Sehingga kita tidak terlalu bergantung pada orang lain. Kita bisa membuat keputusan yang tepat untuk diri kita.

Baca juga: Wahai anak muda putuskanlah apa yang harus kamu putuskan

Mampu membuat keputusan merupakan hal yang kamu punya. Jangan pernah ragu dan menyesali apa yang sudah diputuskan. Karena dampak dari itu semua akan menurunkan tingkat kesehatan mental kita. Lihat ke depan dengan sebuah persepektif banyak kesempatan untuk berubah.

Accurate perception of reality

Bisa mempersepsikan diri sesuai dengan realitas merupakan poin mutlak dalam mengukur kesehatan mental diri. Ini berarti kita harus mampu memandang diri secara natural dengan kaca mata sendiri sesuai dengan realitas. Ketika kita memandang diri terlalu negatif dan secara terus menerus mengelak atau terdistorsi dari realitas, seakan kita hidup di dunia yang berbeda.

Baca juga: Mengenal Dissociative Disorder. Kepribadian Ganda, Depersonalisasi, dan Amnesia Dissosiative | Serial Mengenal Stres

Contohnya perilaku kita harus mampu sesuai dengan lingkungan realitas. Kita mampu merespon apa yang terjadi dari lingkungan secara tepat, misal memakai baju secara normal, merespon orang lain dengan tepat. Orang yang memiliki kesehatan mental buruk seperti skizofrenia, kepribadian ganda, dsb, mereka terpisah dari realitas dan dipandang tidak normal dari masyarakat.

Adapting to the environment

Poin terakhir ini sangat jelas, yaitu kita mampu beradaptasi ketika dalam berbagai situasi. Situasi tersebut bisa di tempat kerja, sekolah, hubungan personal, atau aktivitas waktu luang. Artinya kita harus fleksibel dalam segala situasi, tidak terlalu kaku dan ketat pada diri. Kita juga harus mampu beradaptasi dan menyesuaikan diri dari perubahan.

Baca juga: Hidup Terus Mengeluh dan Sulit Bersyukur ?. Lihat dan Lakukan 7 Hal ini Sekarang Juga

Ciri orang yang tidak sehat secara mental, mereka tidak akan tahan terhadap perubahan. Contohnya orang yang mengalami gangguan spectrum autism tidak tahan dengan perubahan sekitar. Namun kita harus mampu menghargai mereka juga sebagai individu yang memiliki keunikan tersendiri.

Penutup

Yuk selalu positif demi kesejahteraan psikologi. Source: Pexels.com

Oke untuk kali ini mungkin dicukupkan sampai di sini saja. Semoga kita selalu diberikan kesehatan baik fisik ataupun mental. Sehingga kita mampu mencapai psychological Well-being atau kesejahteraan psikologis. Karena dengan begitu kita akan menggapai kehidupan yang bahagia. Bukankah orang yang banyak harta juga tidak terjamin kesehatan psikologisnya? Karena demikian sebisa mungkin intinya kita harus memiliki sikap syukur, sabar, qanaah, tawadhu, wara dan tidak iri ataupun dengki pada orang lain.

Terima kasih

Bagi teman-teman yang memiliki kritik atau saran yang bersifat membangun blog ini dan mungkin juga ingin mengirimkan artikel atau karyanya untuk dipublikasikan di website ini, kamu bisa mengirimkan itu ke alamat e-mail : Aripviker@gmail.com

Daftar Pustaka

Jahoda, Marie, Current concepts of positive mental health, 1978.

Facebook Comments

Arif Keisuke

Lebih suka melihat langit biru di antara pepohonan yang hijau.

2 tanggapan untuk “Mengukur Tingkat Kebahagiaan dan Kesehatan Mental Diri Sendiri dengan Teori Jahoda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: