Terapi Gestalt untuk Membangun Kesadaran Lingkungan Hidup Masa Kini

Pendahuluan

Kali ini Arif Keisuke akan memuat artikel mengenai bagaimana perilaku orang sehat dalam memelihara lingkungan. Untuk membangun kesadaran lingkungan hidup masa kini saya akan menawarkan terpai Gestalt dalam membangun kesadaran tersebut.


Yuk bagi kamu yang ingin meningkatkan kesadaran terhadap lingkungan hidup bisa dibaca artikelnya sampai tuntas!

Terapi Gestalt dalam Membangun Kesadaran Lingkungan Hidup Masa Kini

Sadari diri dalam kehidupan saat ini. source; Pixabay.com

Hari ini usia bumi bisa ditaksir sekitar 4.543 miliar tahun menurut para ahli. Berbagai macam kehidupan di dalamnya telah disaksikan oleh bumi. Begitupun kehidupan manusia sekarang ini, bahkan mungkin kehidupan yang akan datang. Karenanya umur bumi sudah sangat tua jika diukur dalam rentang usia manusia saat ini.

Usia manusia saat ini menurut rata-rata tidak lebih dari 63 tahun. Usia tersebut tentunya merupakan secuil dari usia bumi. Namun fakta yang paling mencengangkan adalah manusia yang hidup saat ini adalah generasi yang pertama kali merusak keseimbangan bumi ini (Jostein G, 2013). Mereka mengusik tambang, mengeksploitasi keanekaragaman hayati, bahkan merusak lingkungan hidup demi terpenuhi nafsu dunianya.

Baca juga: Mari Mulailah Peduli Pada Lingkungan Wahai Umat Manusia Saat Ini | Resensi Dunia Anna

Bukti dampak dari perilaku tersebut adalah meningkatnya temperatur global. Sejak tahun 1880 bumi telah memanas, bahkan di tahun 1990an merupakan dekade terpanas dalam 1.000 tahun terakhir. Para ahli memperkirakan bumi akan meningkat suhunya rata-rata 3-5 derajat celcius selama 100 tahun ke depan (IPCC, 2007 dalam Arkive.org). Dampak dari pemanasan global yaitu memanasnya samudera, peningkatan air laut, penyusutan lapisan es, bencana yang ekstrim, bahkan sampai merusak habitat fauna dan manusia.

Melihat fenomena tersebut sudah saatnya kita menyadari dan menghubungkan diri dengan dunia. Kita perlu menggunakan seluruh indera kita untuk mempersepsikan dunia ini. Karena indera manusia saat ini telah dibutakan dengan kehdiupan modern, orang tidak lagi benar-benar mengalami kelekatan yang dalam dengan eksistensinya dalam ekosistem fisik (Susan K. M. & Deborah Du N, 2010). Gaya hidup modern yang dimaksud dimana perilaku yang menyumbang pelepasan gas Karbon Dioksida (CO2) ke udara. Perilaku tersebut adalah penggunaan bahan bakar fosil berlebihan.

Penggunaan bahan bakar fosil merupakan sebuah candu manusia masa kini. Bahan bakar fosil merupakan energi yang telah tersimpan hasil dari kehidupan jutaan tahun silam. Manusia saat ini telah mengekploitasi kekayaan alam sehingga menyumbangkan 27 milliar ton karbon dioksida ke atmosfer pada tahun 2005.


Contoh perilaku tersebut adalah mengendarai kendaraan bermotor, gas, pembangkit listrik berbahan bakar batubara, konsumsi daging yang memproduksi gas metana seperti sapi, dan deforestasi. Perilaku tersebut merupakan umpan balik yang keji pada bumi. Penyadaran eksistensi manusia yang merupakan bagian dari alam harus dikedepankan.

Menyadari eksistensinya yang tidak terpisahkan dengan lingkungan hidup merupakan langkah awal menumbuhkan kepedulian pada lingkungan. Dengan menyadari keberadaan dirinya saat ini dan kehidupan yang akan ada setelah dirinya harus digemborkan. Penyadaran tersebut bisa diterapkan dengan model terapi gestalt. Terapi gestalt bertujuan untuk mengubah cara pandang manusia dari pandangan yang terpisah dari spesies lain dan alam menjadi pandangan keseluruhan.

Baca Juga: Review Film Little Forest Live Action. Keindahan Alam dan Kemandirian di Pedalaman Jepang

Untuk menghubungkan eksistensi manusia dengan dunianya, manusia harus belajar bagaimana keberadaannya merasakan pengalaman yang lebih lengkap, tenang, dan dalam. Manusia bisa melihat, mendengar, merasakan, dan merasa lebih jelas tentang keberadaanya yang merupakan bagian dari alam. Sehingga manusia akan merasakan pentingnya untuk memperhatikan dalam memunculkan perilaku yang benar. Manusia memiliki tanggung jawab terhadap orang lain, spesies lain, dan lingkungan dimana manusia itu hidup (Susan K. M. & Deborah Du N, 2010).

Satukan emosi, kognisi, dan perilaku untuk menyadari lingkungan. Source: Pexels.com

Karena inti dari teori gestalt adalah menyatukan atau menghubungkan antara pikiran, emosi dan perilaku manusia. Manusia bisa merasakan dirinya secara sadar tentang masa kini. Perilaku yang diharapkan yaitu bisa selaras dan tepat dengan keadaan sekarang.

Menyadari eksistensinya serta selaras dengan emosi diri sebagai makhluk berpikir dan penanggung jawab dunia, merupakan langkah awal untuk mengetahui tugasnya di muka bumi ini. Sebab salah satu indikator mental yang sehat yaitu unfictation of function atau perannya berfungsi secara utuh.

Baca juga: Rekomendasi Anime yang Memiliki Pemandangan Indah Part 1

Manifestasi dari terapi di atas adalah menciptakan manusia yang altruisme dan perilaku cinta terhadap orang lain, spesies lain, dan alam. Perilaku altruisme merupakan perilaku yang mendahulukan kesejahteraan orang lain. Dalam kaitannya dengan alam, kesejahteraan tersebut ditujukan pada manusia yang hidup setelahnya. Karena seyogyanya mereka adalah pewaris lingkungan yang ditinggalkan manusia saat ini.

Ketika hal tersebut tertanam, manusia akan mencintai orang lain baik secara vertikal lintas generasi atau horizontal, spesies lain, dan alam. Sehingga implikasinya yaitu perilaku yang akan menjurus pada pemeliharaaan lingkungan hidup bukan lagi sebuah keterpaksaan. Manusia akan sadar untuk menghemat energi terutama dalam rumah, mendaur ulang sampah, lebih menggunakan transportasi publik, dan menebarkan kesadarannya tersebut pada orang lain.

Penutup

Lingkungan asri bisa jadi strategi coping stres. Source: Pexels.com

Well, untuk kali ini dicukupkan sampai di sini saja untuk masalah lingkungan hidup. Semoga kita bisa menyadari apa tugas dan peran kita secara tepat. Karena indikator orang yang sehat secara mental harus memiliki kesatuan antara sikap, peran dan memiliki persepsi yang baik atau normal terhadap dunia. Tugas manusia adalah sebagai pemelihara titipan harta dunia, bukan untuk diekploitasi secara buta. Yuk mari menjaga lingkungan kita sebagai orang yang sehat mental, karena aktualisasi potensi manusia yaitu mampu berbuat baik pada lingkungan.

Bagi teman-teman yang memiliki kritik atau saran yang bersifat membangun bloh ini dan mungkin juga ingin mengirimkan artikel atau karyanya untuk dipublikasikan di website ini, kamu bisa mengirimkan itu ke alamat e-mail: Aripviker@gmail.com

Daftar Pustaka

Koger, S.M., & Nann Du D., (2010), The Psychology of Environmental Problems: Psychology for Sustainability, New York: Taylor & Francis Group.

Gaarder J., Terj. Syahrir I., Dunia Anna, Bandung: Mizan, 2013.

IPCC (2007) Summary for policymakers. In: Solomon, S. et al. (Eds.) Climate Change 2007: The Physical Science Basis. Contribution of Working Group I to the Fourth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change. Cambridge University Press, Cambridge, U.K. and New York, USA. Diakses dari arkive.org.

Facebook Comments

Arif Keisuke

Lebih suka melihat langit biru di antara pepohonan yang hijau.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: