Idul Fitri, Sarana Menyambung Tali yang Putus

Pendahuluan

Assalamu’alaikum wr.wrb. Selamat siang para nettizen. Bagaimana kabar puasanya hari ke 22 ikhwah fillah ? Semangat terus ya menahan dari segala serangan nafsu yang menerpa diri kita insya allah :-). Ingat ya berpuasa bukan hanya menahan diri dari rasa lapar dan dahaga.

Melainkan kita dianjurkan untuk dapat mengendalikan hawa nafsu yang hidup dalam diri, meskipun ada yang bilang “Syetan dan Iblis di bulan Ramadhan itu dirantai”. Kita tidak tahu seperti apa dan bagaimana makhluk penghuni neraka itu diikat-Nya, mungkin mereka bisa mengendalikan dari jauh (analoginya seperti bandar tahanan narkoba yang bisa mengendalikan peredaran narkoba dari dalam penjara lewat kurir – kurirnya) dalam kontek ini kurir atau agen tersebut hawa nafsu dalam diri kita. Wallaahu a’lam.

Silaturahim

Bagaimana waktu ramadhan kali ini apa kalian biarkan berlalu begitu saja ? atau disambut dengan sambut yang megah ? Pastinya donk dengan ibadah yang rajin lebih dari bulan – bulan biasanya ya, karena tidurpun di bulan suci ini diberi pahala loh tetapi tidur yang dimana dulu :D, Lihat dibawah :

Idul Fitri

نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ ، وَصُمْتُهُ تَسْبِيْحٌ ، وَدُعَاؤُهُ مُسْتَجَابٌ ، وَعَمَلُهُ مُضَاعَفٌ

Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah. Diamnya adalah tasbih. Do’anya adalah do’a yang mustajab. Pahala amalannya pun akan dilipatgandakan.” Perowi ‘Abdullah bin Aufi. Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman 3/143 )

Oke kita masuk ke topik. Bentar lagi kita mudik horayyy Alhamdulillah (Saya mah gak mudik da tinggal di kampung halaman :p). Bagi yang akan bermudik ria saya do’akan semoga selamat sampai tujuan dan bertemu dengan orang – orang tercinta amiinnn !. Yang belum mudik segeralah mudik karena keluarga di rumah menanti mu setelah sekian lama engkau pergi jauh ke kota (Bukan nyanyi ya :D) atau ada yang sebaliknya malah. Sama ajalah mau ke rural atau urban juga yang penting terjalin komunikasi dengan saudara atau keluarga kita.

Nah sebelum itu ada permasalahan dikit. Saya tanya deh, “Apakah Silahturahmi dengan Silaturahim itu sama atau kah beda ?” Hayoo cari sana dulu di google :D.

Saya jelaskan deh okee simak penjelasannya berikut ini : Silaturahim adalah kata majemuk yang terambil dari kata Shilat dan rahim. Kata Shilat berakar dari kata yang berarti “Menyambung”, dan “Menghimpun”. Itu berarti sesuai konteks kita yang dirujuk oleh kata ini haruslah sesutau yang sudah terputus dan terseraklah agar disambung kembali. Sedangkan kata Rahim awalnya memiliki arti “Kasih sayang”.

Kemudian semakin berkembang pemaknaannya menjadi “Peranakan”(Kandungan), karena anak yang dikandung selalu mendapatkan kasih sayang. Lalu silaturahmi itu gimana salahkah ? Kata silaturahmi merupakan cara pengucapaan orang Indonesia. Meskipun berbeda tetapi jika perujukan/hakikatnya sama itu diperbolehkan. Meskipun begitu kata Silaturahim lah yang tepat.

Lalu apa hakikat dari silaturahim itu ?

Sabda Nabi Muhammad SAW. : “Tidak bersilaturahim (namanya) orang yang membalas kunjungan atau pemberian, tetapi (yang dinamakan bersilaturahim adalah) yang menyambung apa yang putus” (H.R. Bukhari)

Bagaimana bisa mendapatkan maknanya ? Jadi bagi mereka yang mudik dan berusaha mengingat – ingat orang yang terluka hati oleh ulahnya ataupun orang yang jarang dikunjunginya maka itulah silaturahim. Dengan adanya acara mudik “Lebaran’ inilah kita bisa menyambung tali yang putus, menghangatkan suasana dan mencairkan yang beku.

Tetapi apakah hanya itu dalam bersilaturahim ?

Tentu saja tidak ! Alangkah lebih baik jika kita hendak bermudik, kita membawa – banyak ataupun sedikit – sebuah cenderamata buah dari pertemuan yang sudah usang. Sehingga timbullah kasih sayang. Dari situlah Shilat diartikan “Pemberian”. Dan tidak salah juga jika kita memperlihatkan kesuksesan yang diraih untuk memotivasi orang supaya giat dalam bekerja karena Allah sangat menyukai orang yang membagikan nikmat-Nya. asalkan tidak bermaksud sombong dan ujub. Karena perbuatan tersebut sangatlah dimurkai Allah SWT.

Bergembira saat mudik memang dianjurkan tetapi ingat janganlah terlalu berlebihan terhadap hal itu.

Sumber:

Buku “Lentera Hati” Karya M. Quraish Shihab – Bab 7

https://rumaysho.com

Bagi yang ingin membaca “Khasiat Shalat Malam” bisa diliat disini.

Catatan penulis : Bila ada kesalahan dalam Arti Ayat Al Qur’an atau Hadist silahkan tulis dikomentar.

Facebook Comments

Arif Keisuke

Lebih suka melihat langit biru di antara pepohonan yang hijau.

Satu tanggapan untuk “Idul Fitri, Sarana Menyambung Tali yang Putus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: