The Better Modelling Figure For Better Children’s Behavior

Bismillah Calligraphy pic image 10
Source : Google.com

Yosh,  Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Kali ini kembali lagi saya akan memposting sebuah artikel. Sebenernya artikel ini sudah dibuat minggu lalu, namun karena kendala malas jadi malas posting di blog. :D.  Kali ini juga saya menulis artikel dengan tema pendidikan dan moral. Setelah sebelumnya saya menyinggung tentang Urgensi Pendidikan Moral . Karena melihat perkembangan zaman yang begitu cepatnya, mereka melupakan aspek yang sentral dalam berkehidupan, yaitu akhlak yang luhur. Melihat pentingnya itu, ada kementerian yang menangani masalah anak dan keluarga di kemdikbud. Jika kamu berniat mendalaminya bisa mengunjungi link berikut ini [Sahabat Keluarga Kemdikbud]. dan untuk masalah internet bisa baca tulisan saya di [Tinjauan pemberian internet pada anak]

The Better Modeling Figure for Better Children’s Behavior

Semenjak abad milenium dua puluh satu ini bergulir, perhatian terhadap perkembangan moral semakin menggiat. Terutama permasalahan perilaku anak-anak dalam berperilaku. Padahal mereka merupakan aktor muda dalam menentukan arah kemana akan bergeraknya bangsa ini. Isu-isu yang bertebaran di media masa mewarnai miringnya perkembangan moral pemuda generasi penerus bangsa. Anak-anak menjadi pemeran aktif dan korban dalam kekerasan di abad ini. Contoh kasusnya yaitu siswa sekolah dasar yang menikam temannya (Berita Kota:2016). Serta kasus terbaru yaitu disetrumnya pelajar sekolah dasar oleh kepala sekolahnya (Andi Hartik: 2017). Kasus tersebut dibuntuti dengan banyak faktor yang melatar belakangi terjadinya fenomena kontemporer ini.

Masalah pertama yaitu kebanyakan anak memodelkan model yang salah. Figur televisi banyak mempertontonkan segala sesuatu yang tidak patut ditonton dan dicontoh oleh para generasi penerus bangsa ini. Karena menurut Albert Bandura salah satu cara pembalajaran yaitu dengan teori modelling (Laura A. King: 2014). Teori tersebut menyatakan bahwa seorang pelajar akan menentukan seorang menjadi figur, yang menarik perhatian pelajar. Figur tersebut akan berbeda setiap orang karena adanya proses atensi dari setiap pelajar. Karena hal itu pula, jika anak disuguhkan dengan tontonan yang bebas, mereka akan bebas pula memilih figur yang notabene tokoh antagonis kalau dalam tayangan televisi kebanyakan. Hal itu tidak bisa ditampik, tayangan-tayangan televisi pada jam-jam tayang utama mempertontonkan yang tidak layak dicontoh oleh kawula pelajar anak usia muda. Yaitu di dalamnya tontonan yang menjadi konsumsi para kawula muda maupun tua malah dikonsumsi berbarengan dengan anak-anak.

soldier-military-uniform-american
Ajari Berbagi. Source: Pexel

Konsekuensi dari penayangan televisi yang kurang edukatif akan menumbuhkan sosok seorang figur model yang salah dalam diri anak. Anak akan mengimitasi pola perilaku dari model yang ditangkap oleh atensinya. Jika kemungkinan terburuk itu terjadi, maka anak akan memiliki model yang berperangai buruk. Karena anak tidak tahu pembagian peran dari seorang aktor, seperti peranan antagonis yang mungkin salah persepsi bagi si anak. Mereka hanya tahu hal yang konkret apa yang ditangkap oleh inderanya menurut Piaget (Patricia H. Miller:1993).

Kesalahan dalam menentukan figur akan berdampak pada perkembangan moral anak. Anak akan belajar perilaku atau tingkah laku yang dilakukan oleh model figurnya. Jika seorang model yang dijadikan model oleh anak menunjukan contoh budi pekerti yang buruk, maka moral yang tertanam dalam anak akan cenderung sama dengan model itu. Contoh lainnya yaitu jika orang tua menunjukan sikap yang saling mencaci maki atau bertengkar di hadapan seorang anak, tentunya anak akan mengamati pola perilaku orang tuanya. Mengingat orang tua merupakan sosok model sentral dalam sosialisasi primer bagi anak. Anak yang mengobservasi perilaku buruk orang tua, anak bisa dipastikan akan meniru apa yang dilakukan orang tuanya. Dampak dari hasil belajar tersebut akan mereka produksi kepada teman sebayanya.

Melihat permasalahan di atas, semakin urgen isu perkembangan moral anak di negeri pertiwi ini. Fakta di lapangan bisa dilihat dalam surat kabar di kolom acara televisi (Pikiran Rakyat:Maret 2017) atau televisi langsung. Tayangan-tayangan televisi swasta kebanyakan menayangkan tayangan yang berbau percintaan haram (pacaran), perkelahian, saling membenci, dll. Tayangan tersebut pula ditayangkan ketika pada waktu yang seharusnya merupakan porsi belajar anak. Hal itu menambah distraction untuk anak dalam belajar, jika orang tua tidak dapat menangani dan mengawasi mereka.

Kemudian the powerfull of words and the beautiful morning belum diterapkan di negeri ini. Dalam setiap artikel Benjamin Hardy mengatakan bahwa pentingnya mengawali pagi dengan dipenuhi hal positif. Akibatnya, itu akan menentukan aktivitas yang baik di waktu berikutnya. Dalam tayangan pagi masyarakat sudah disuguhkan berita yang menunjukan kejahatan, kekerasan, atau yang berbau perilaku miring. Tentunya secara tidak langsung akan membuat anak atau seseorang memandang harinya dengan kecenderungan negatif. Itu dapat berdampak pada fleksibilitas dan keseimbangan kognitif seseorang. Berdasarkan jurnal “Positive Affect and Cognitive Control: Approach-Motivation Intensity Influences the Balance Between Cognitive Flexibility and Stability” itu mempunyai hubungan yang signifikan. Melihat hal itu, betapa pentingnya memulai segala hal dengan lebih positif.

Selaku salah satu generasi penerus bangsa, kita diharapkan bisa mengubah paradigma yang ada di masyarakat sekarang ini. Solusi yang ditawarkan di antaranya yaitu menjadi orang tua sampai usia matang dan mengenalkan shirah nabawiyah atau kisah Rasulallah SAW kepada anak-anak. Karena jika ditinjau dari perkembangan manusia, penanaman dasar-dasar perilaku itu ketika anak-anak. Pembentukan dari luar diri dapat tercapai dalam rentang usia 0-12 tahun. Dan juga anak cenderung lebih intens dalam berinteraksi dengan keluarganya pada masa ini. Serta sifat anak yang terakhir adalah sifat yang mana memiliki ketaatan terhadap aturan yang dibuat oleh lingkungan. Artinya dia akan mematuhi suatu perintah dan jika tidak maka konsekuensinya adalah hukuman. Oleh karena itu, solusi yang tepat adalah stimulus dari luar yang harus berperan aktif.

pexels-photo-1128318
Bisa meredam emosi pribadi pada anak. Source : Pexel

 Solusi pertama yaitu kesiapan orang tua menjadi orang tua. Kesiapan orang tua untuk menjadi orang tua maksudnya seseorang siap secara mental dan jasmani atau mencapai maturasi. Jika  belum mencapai masa yang cukup, hal itu berimplikasi terhadap pola asuh orang tua terhadap anak. Serta perilaku orang tua yang masih belum stabil akan nampak di hadapan sang anak. Padahal perilaku, buruk, tidak boleh diperlihatkan kepada mereka. Hal itu akan terus membekas karena anak yang merupakan pelajar aktif dan anak belajar lewat observasi konkret terhadap figur yang ada di dekatnya. Lingkungan terdekat yaitu keluarga, yang merupakan agen sosialisasi primer dalam mengajarkan dan menanamkan nilai-nilai dasar dalam berperilaku. Jika terdapat kegagalan dalam tahap primer, maka tidak akan memiliki dasar dalam berperilaku dan berinteraksi dengan agen sosialisasi sekunder. Anak-anak akan cenderung terbawa angin. Karena tidak memiliki dasar moral yang kuat dalam dirinya. Kebingungan peran menjadi orang tua dialami oleh Mona. Ia menjabarkan bahwa hanya mengikuti arus kebanyakan orang tua pada umumnya. Namun karena berusaha mencari solusi cara parenting hal itu sudah terselesaikan (Sahabat Keluarga, 2018). Karena itu, pola parenting harus diperhatikan agar anak secure. Sehingga kebutuhan anak dalam menjalin ikatan emosional dan hubungan terpenuhi, dan itu merupakan penentu perkembangan anak di tahap selanjutnya menurut Bowlby (Dalam Jhon W. Santrock, 2012).

Kesiapan mental dan berperilaku harus dimiliki oleh kedua orang tua. Seperti yang sudah dipaparkan di atas bahwa orang tua sebagai modeling figure pertama bagi anak. Dengan memiliki kesiapan mental, orang tua akan lebih menunjukan sikap positif di depan anak. Sehingga anak akan mengetahui dan mengidentifikasi pola perilaku orang tuanya, dan dia akan memproduksi perilaku yang positif seperti yang dicontohkan orang tuanya. Karena Children see children do. Jadi, mari perlihatkan perbuatan baik di depan anak-anak kita.

Solusi lain yaitu perkenalkan anak terhadap model yang berakhlak mulia. Orang itu adalah  Nabi Muhammad SAW dan para sahabat dengan mengenalkan kronologi sejarahnya secara interaktif dan aplikatif. Seperti yang kita ketahui, nabi Muhammad memiliki akhlak dan budi pekerti yang luhur dan menjadi panutan umatnya. Aisyah radhiallahu anhu bersabda bahwa

Rasulullah bukanlah seorang yang keji dan tidak suka berkata keji, beliau bukan seorang yang suka berteriak-teriak di pasar dan tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Bahkan sebaliknya, beliau suka memaafkan dan merelakan” (HR. Ahmad).

reading-77167
Ajak anak bercerita. Source : Pexel

Buatlah anak mengagumi sosok pilihan Allah itu untuk dijadikan model dalam mempelajari perlakunya. Pengedukasian oleh keluarga dengan cara menceritakan sebuah kisah sebelum tidur atau sering bercengkrama dengan anak. Jadi pentingnya peran keluarga dalam mengedukasi anak dan menjadi contoh bagi anak harus bisa dilakukan.
Disamping itu, perlu juga pengedukasian secara bertingkat di tiap lingkungannya, seperti lingkungan yang lebih luas cakupannya. Contohnya yaitu penayangan secara intens di televise maupun memasukan anak ke sekolah agama atau pengajian sekitar.

#sahabatkeluarga #pendidikankarakter #mendidikanak

Referensi

Abdul Malik bin Muhammad al-Qasim, Sehari Di Kediaman Rasulullah, Jakarta:

Daarul Haq, 2016.

Jatnika Y, “Mona Ratuliu Sempat Bingung Bagaimana Menjadi Orang Tua”, Sahabat Keluarga, https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost/xview&id=4863. Diakses tanggal 14 Juli 2018 jam 20.00 WIB.

Liu Ya and Wang Zhenhong, “Positive Affect and Cognitive Control: Approach

Motivation Intensity Influences the Balance Between Cognitive Flexibility and

Stability”, Journal Psychological Science, SAGEPUB, 2014 Vol. 25(5) 1116-1123.

Miller Patricia H., Theories of Developmental Psychology, New York: W.H Freeman

and Company, 1983.

Santrock John W, Life-span Development, Edisi 13, Jilid 1, (Jakarta, Erlangga:

2012).

http://sulsel.fajar.co.id/2016/12/11/siswa-sd-kelas-vi-tikam-teman-sekolahnya/

(Diakses tanggal 05-05-2017 jam 17.00)

http://regional.kompas.com/read/2017/05/01/08554311/siswa.sd.disetrum.kepala.sekolah.dengan.dalih.terapi.orangtua.protes (Diakses tanggal 05-05-2017 jam 17.00)

Sudah begitu saja. Untuk kamu yang ingin mengetahui landasan hukum atau seputas keluarga dan anak sudah ada rantingnya di kemdikbud loh, kamu bisa mengunjungi [Sahabat Keluarga Kemdikbud]. Oh iya bagi anda selamat yang telah lulus SNMPTN, dan bagi yang mendaftar di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta bisa masuk ke sini Seputar UIN Jakarta. Dan bagi yang ingin ikut Ujian Mandiri setelah SBMPTN boleh dilirik nih : Ikut UM atau Ngulang Tahun Depan ?. 

Facebook Comments

Arif Keisuke

Lebih suka melihat langit biru di antara pepohonan yang hijau.

5 tanggapan untuk “The Better Modelling Figure For Better Children’s Behavior

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: