Sudahkah Kita Belajar ?

Asslamu’alaikum. Salam bagi para pengunjung yang baik dan bersahaja.

Temen-temen sejak kapan sih mulai belajar ?. Eh, tapi sebelum itu tahu engga apa arti dari belajar itu sendiri ? Jangan-jangan engga tau arti dari belajar, padahal untuk bertahun-tahun mengenyam pendidikan formal hhee. Kalau di sekolah formal selama 12 tahun merasakan dinginnya berangkat pagi dan lelahnya pulang sore hehe :D.

664xauto-tips-kelola-waktu-belajar-lebih-efektif-140703i
Anak kecil aja rajin banget tuh 😀 (source : google.com)

Bagaimana perasaan temen-temen ketika belajar ? bahagia kah (Oh ya artikel bagaimana kita bahagia bisa dibaca kak Mengoptimalkan Potensi Sistem Syaraf untuk Kebahagiaan). Harus bahagia dong, karena mengutip perkataan Imam Syafi’i bahwa

Jika kita tidak tahan dengan beratnya belajar hari ini, maka bersiaplah untuk menahan berat dan pedihnya kebodohan di masa mendatang (Imam Syafi’i)

Kurang lebih seperti itu ya, so mari mencari tahu apa yang tidak kita ketahui dan yang diketahui. Karena ada yang berkata pula, entah siapa lupa :D, semakin banyak kita membaca, belajar, maka semakin banyak yang tidak kita ketahui. Jadi apa belajar itu malah ngalor ngidul wkwk 😀

Jadi gini, kalau menurut bahasa kerennya yaitu perubahan pada diri individu yang bersifat menetap. Nah berarti kalau belum ada yang berubah dalam diri kita selepas dari sekolah, berarti kita belum dikata telah “belajar” kawan-kawan :D.

Terus yang berubah itu apa ? Perubahan seperti terciptanya pola baru, reaksi baru. Domain atau hal yang berubah hasil belajar meliputi aspek kognisi, afeksi, dan psikomotor. Mudahnya, tahu, merasa, dan bisa. Jika dalam bahasa ilmiahnya kognisi merupakan proses perubahan dari ketidaktahuan menjadi tahu. Afeksi adalah perasaan atau bagaimana kita berakhlak atau berbuat terhadap orang lain. Psikomotor adalah aspek gerakan motorik dari yang tidak bisa kita kuasai menjadi bisa dikuasai.

Manfaat-Mengetahui-Kesadaran-DiriSeseorang belajar didapat dari pengalaman, kematangan, penyesuaian, mengingat, dan bermain. Seseorang bisa belajar karena adanya proses kognitif pelajar dalam melihat fenomena yang ada (baca tentang : persepsi). Kalau dalam Psikologi dasar kita akan menemukan suatu teori yang khusus membahas tentang belajar. Bunyi teorinya secara singkat bahwa segala sesuatu itu didapat karena belajar, manusia dianggap sebagai kertas putih yang bisa diwarnai dengan warna yang beragam. Contoh penelitiannya dilakukan dengan pengkondisian anjing dan hewan lainnya, yang mana objek bisa merespon dengan hasil yang diinginkan dan disebabkan pengkondisian yang diberikan (stimulus).

Contoh teori ini dalam manusia yaitu, suatu hari kita mendengar cerita dari teman kita bahwa dokter gigi yang sudah memasangkan alatnya ke gigi kita, dia akan mencabut gigi kita secara paksa. Mungkin respon ketika anda sakit gigi dan dianjurkan untuk pergi ke dokter, anda akan menggidig terlebih dahulu. Atau cerita lain bahwa ketika anda ingin menggesekkan sendok alumunium ke gigi anda, anda mungkin akan cenderung terganggu dan segera menolaknya. Fenomena itu bisa dijelaskan disini

Juga nih, anak-anak juga akan belajar dari memandang atau mengobservasi seseorang yang dirasa menggugah attensinya. Untuk proses belajar seorang anak bisa dibaca di artikel The better modelling figure for better children’s behaviorDisana dijelaskan bahwa bagaimana anak bisa mengadopsi perilaku seseorang dan menyimpannya dalam memori mereka. Jadi bagi para orang tua, terkhusus orang tua muda tetep jaga kestabilan emosi negatif dan perilaku di hadapan penerus kita. Supaya anak tidak memiliki ingatan destruktif, yang suatu waktu bisa dipanggil dan dia akan menerapkannya kepada objek lain.

Yang ingin saya tekankan adalah apakah sudah kita belajar ?. Melihat fenomena sekarang belajar mungkin hanya diartikan dalam satu pandang saja, yaitu sisi kognitif. Bahkan ada loh belajar meta kognitif juga, yaitu belajar bagaimana kita belajar. Kita cenderung melupakan belajar aspek afeksi. Akhlak dalam perilaku kita cenderung tidak belajar sama sekali.

Ce9PTWzUIAAh8Lv
Source : kemendikbud

Beragam kasus muncul yang mengangkat isu moral, terutama kasus korupsi yang seperti sudah menjadi tradisi di negeri pertiwi ini. Para koruptor seakan tidak belajar sama sekali, meskipun namanya terpatri title bergengsi, bahkan alumni luar negeri. Untuk apa hal itu dimiliki, jika dirasa berbudi masih tidak bisa dikenali. Sebenernya sudah banyak fenomena kasus korupsi terdahulu yang bisa diambil pelajarannya agar tidak masuk atau terjerat dalam kasus yang sama. Namun itu hanya berlaku bagi “orang yang mau beripikir”. Orang yang tidak beripikir dan tidak ingin menggunakan pengliahatan, pendengaran, dan hatinya tidaka akan pernah belajar sama sekali.

Sudah secara gamblang diberikan contoh fenomenanya, seperti kasus korupsi suatu bupati (Kasus korupsi) dan masih banyak lagi. Dimana martabat diri dan gelar yang tertuang jika diri masih dikuasai oleh nafsu iblis. Apalagi semua itu ditutup-tutupi. Kapan kita berani mengungkapkan kebenaran, jika dalam kebatilan saja kita berani berkooperasi.

Itu bisa didorong dalam pendidikan karakter sejak usia dini. Yaitu didorong supaya anak tidak hanya berprestasi, tapi prestasi dari hasil perjuangan sendiri atau jujur diri. Bukan seperti cerita si kancil yang sering diceritai kepada anak negeri.

CfJ6TIlUYAAVnkX
Kemendikbud

Marilah saudaraku kita belajar dengan penuh arti. Tidak hanya kemampuan kognisi yang harus digali, tetapi kemampuan afeksi perlu dibenahi sejak dini. Karena jika kita tidak memulai dan tidak menciptakan lingkungan yang menaungi prinsip tadi, orang yang memiliki niat diri ingin berubah akan sangat tidak terdukung. Karena menjadi minoritas tidak akan pernah merasa bebas, harus ada teman yang saling membantu satu sama lain.

 

~Mari Belajar.

 

Padang Rumput
google.com

For your information, artikel selanjutnya adalah tentang kecerdasan dengan system syaraf kita. Therefore you dont go to outside. Enjoy your life, dont be sad and dont be afraid to walk on your dream. to expose the true we should have a brave, what else in the bad moral millieu.

Dan apabila ada koreksi atau saran atau apapun bisa kamu tulis di komentar atau kirim email personal ke : aripviker@gmail.com :). 

Sumber referensi :

Perkuliahan Psikologi Umum II, Pendidikan I, dan PIO I. dan buku kuliah lain.

Facebook Comments

Arif Keisuke

Lebih suka melihat langit biru di antara pepohonan yang hijau.

4 tanggapan untuk “Sudahkah Kita Belajar ?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: