Tinjaun dan Peran Keluarga Terhadap Pemberian Smartphone dan Internet Pada Anak

Yosh, Assalamu`alaikum. Selamat siang.

Kali ini saya ingin memberikan tulisan lain tentang parenting. Meskipun diri ini belum menikah, wkwk, tapi karena pengen memberikan sebuah saran tentang parenting. Mungkin terasa aneh ya karena belum menikah udah berpendapat tentang pendidikan keluarga : D wkwk, tapi insyaa Allah saya banyak dipengaruhi oleh dosen-dosen di kampus. Oke lupakan hhe, Untuk masalah bagaimana anak belajar lewat figure atau observasi linkungan sekitar bisa kamu akses disini [The Better Modelling Figure for Better Children`s Behavior].
Tambahan, bagi kamu yang ingin tahu atau sebagai aktivis parenting atau dalam pendidikan keluarga bisa mengunungi portal kemdikbud di [Sahabat Keluarga Kemdikbud].

Peninjauan Pola Pemberian Smartphone dan Internet Pada Masa Perkembangan Anak

Sebuah Analisis Pola Parenting dan Pengembangan Akhlak Masa Kini

Kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) merupakan paradigma yang mengiringi kehidupan manusia di abad ke-21 ini. Kemajuan TIK sendiri tidak bisa ditampik dan dihindari, karena semua orang dimanjakan dengannya setiap saat. Contohnya mulai dari bangun pagi, yang mana mungkin, bagi sebagian orang yang bergantung terhadap alarm yang terpasang dalam produk dari kemajuan TIK tadi. Contoh lainnya yaitu kemudahan mobilitas bagi sebagian orang yang pekerjaannya membutuhkan mobilitas tinggi, seperti ke luar masuk kota. Lebih jauhnya lagi, bumi terasa seolah datar. Datar yang dalam artian orang dapat dengan mudah melihat fenomena di bagian bumi lainnya secara cepat tanpa beragam hambatan.

Disamping kemudahan yang didapat, seperti teknologi yang lainnya, kemajuan TIK memiliki pisau bermata dua. Hal itu bergantung kepada pemakainya. Jika pemakai tidak bisa mengikuti atau setara dengan kemajuan itu, hal yang akan didapat malah sesuatu yang tidak diharapkan. Dikarenakan kebebasan yang diberikan untuk mengakses internet, khalayak dapat mengakses internet secara bebas, baik dari anak belia, remaja, sampai dewasa.


Bagi orang dewasa mungkin bukan menjadi sebuah paradigma dalam mengakses internet, karena mereka bisa mengetahui apa yang dibutuhkan dan tidak. Namun beda halnya jika itu terjadi pada remaja dan anak. Kebanyakan dari mereka belum bisa membedakan kebutuhan dengan kesenangan. Itu juga bisa disebabkan oleh mereka yang belum menanggung beban hidup. Karenanya, peranan dari orang tua atau dewasa perlu terlibat lebih dalam lagi dalam melihat hal semacam ini. Berdasarkan data penelitian oleh Lesley-Anne Ey & C. Glenn Cupit (2011) di Australia, yang mana mereka melaporkan bahwa pertambahan usia secara positif dengan penggunaan internet. Dimulai dari anak umur 5 tahun dengan persentase 20.6%, 6 tahun 33.4% dst.

20161101_100845ortu utak atik otak com
Ajari anak dengan sabar dan benar. Source : Utakatikotak

Dari data yang disajikan tersebut sangatlah riskan melihat anak 5 tahun sudah bebas mengakses internet. Meskipun survey dilakukan di Australia, tidak bisa dihindari bisa terjadi di Indonesia. Karena kemajuan teknologi informasi, terutama internet, merambah rata di seluruh dunia. Ini dibuktikan dalam data di tahun 2014, pengguna smartphone di dunia ini mencapai 1.85 miliar dan ini akan naik di tahun 2020 mencapai angka 2.87 miliar (Statistika, 2017 dalam Seong-Soo Cha & Bo-Kyung Seo, 2018). Di tahun 2015, negara seperti Malaysia, Brazil, dan China serta negara berkembang lainnya dilaporkan 54 persen menggunakan internet kadang-kadang atau memiliki smartphone. Di negara majupun tidak lepas dari masalah itu, seperti Amerika, Kanada, mayoritas di Eropa Barat, Jepang, dsb.

Berdasarkan data di atas, manusia menjadikan internet dan smartphone sebagai gaya hidup yang tidak bisa dipisahkan. Dampaknya yaitu ketergantungan yang berlebihan terhadap internet. Bahkan dilaporkan mereka tidak bisa hidup tanpa sebuah smartphone (Wajcman et al., 2007 dalam Seong-Soo Cha & Bo-Kyung Seo, 2018).
Jika ini sudah menjangkit anak-anak yang masih belum matang perkembangan baik motorik dan kognitifnya, akan sangat terpengaruh isi kognitifnya dengan konten yang ada pada internet ataupun smartphone. Karena dalam teori Bandura menyebutkan bahwa anak merupakan pembelajar yang aktif, dia bisa mengamati, meniru atau memodelkan, dan memproduksi perilaku dari orang lain. Kemudian hasil dari belajar itu akan terus mengendap dalam kognisinya, yang mana suatu waktu bisa dimunculkan kembali (Patricia H. Miller, 1997).

pexels-photo-1001914
Waktu bermain aktif dan pengawasan orang tua. Source : Pexel

Dalam teori perkembangan sosio emosional, anak masih berada dalam tahapan bermain menggerakan motorik secara aktif, serta bersosialisasi dengan teman sebayanya. Anak membutuhkan sosialisasi, belajar banyak hal dengan sebayanya, dan dunia anak memang untuk bermain. Bermain disini memiliki banyak dampak pada perkembangan anak. Seperti yang dikemukakan oleh Erickson bahwa anak mulai dari bisa berinisiatif, berkembang, bersaing, dan bisa berempati pada sesamanya. Sedangkan jika terjadi sebaliknya akan menjadi menutup diri, jika dilindungi secara berlebihan akan menumbuhkan jiwa yang takut atau ragu, dan bahkan anti-sosial (Patricia H. Miller, 2007). Yang terpenting adalah berpengaruh dalam pencarian identitias anak.

Masalahnya dalam hal ini adalah banyak orang tua yang memberikan smartphone kepada anakanya untuk menghindari perilaku yang unwanted atau tidak diinginkan. Seperti menangis, atau merengekan sesuatu. Istilah yang menggambarkan ini adalah smartphone sebagai “obat penenang”. Namun alih-alih mengatasi masalah, anak akan terlalu asik dengan gamenya. Karena dua karakteristik yang saling mempengaruhi. Yang pertama games yang dibuat para pengembang untuk meraup keuntungan dibuat semenarik mungkin. Kedua, sifat anak yang selalu ingin tahu, dan mudah tertarik terhadap suatu hal tanpa pertimbangan resiko seperti orang dewasa. Alhasil perkembangan anak sedikit terganggu, yang seharusnya atau biasanya perkembangan motorik, sosial, dan kognitif anak itu dilatih oleh orang tua ketika dini dan bersama teman sebaya.

Karena itu masalahanya berada pada orang tua dan dewasa, bagaimana memandang smartphone tersebut. Pengetahuan kita terhadap smartphone harus ditingkatkan, supaya tidak terjadi culture lag. Yang mana penggunaan smartphone tidak pada tempatnya atau tidak optimal. Malah kita yang dikendalikan oleh smartphone. Orang tua harus berkembang dan mengetahui trend masa kini atau pada anak-anak. Ini berfungsi sebagai pengontrol perilaku anak dari hal yang menyimpang. Namun bukan berarti mencegah anak untuk berekplorasi terhadap dunia, tetapi memberikan batasan. Seperti mendampinginnya ketika berselancar di internet, menghidupkan software pemblokir iklan atau ads, dan memberlakukan waktu memegang smartphone. Karena jika dibiarkan saja beberapa faktor psikologis anak akan terganggu, seperti level masalah dari perilaku dan emosi yang berat, rendahnya self-esteem, dan rendahnya komunikasi dengan orang tua sendiri (Jeewon Lee et al., 2018). Contoh nyatanya adalah seperti yang dilakukan oleh Mona dan Indra. Mereka memberikan batasan kepada anaknya dalam menggunakan smartphone, terutama ketika keluar rumah. Hasilnya yaitu anak mereka keluar dari kebiasaan asik dengan gadgetnya, dan lebih diarahkan pada aktivitas fisik (Sahabat Keluarga, 2018).

parents and two sons having fun with computer game isolated on white
Dampingi anak ketika bermain gadget. Source: Iyakan

 

Aboujaoude (2010 dalam Jeewon Lee et al., 2018) menyebutkan bahaya lainnya yang mengintai anak sebagai dari konsekuensi menderita smartphone addiction, Internet Use Disorder, atau Gaming Disorder adalah rendahnya performa akademik, rendahnya hubungan atau kurang memiliki hubungan, kecemasan, depresi, dan masalah perilaku lainnya. Masalah ini muncul sebagai kecanduan dari internet atau smartphone. Ini disebabkan karena implikasi dari interaksi searah antara anak dan smartphone. Dengan kecanduan smartphone mereka akan tidak peduli pada lingkungan sekitar, yang berdampak pada anti-sosial atau kurang berhubungan dengan orang lain. Meskipun dalam smartphone disediakan kemudahan berkomunikasi, namun penyampaian pesan secara faktual atau langsung banyak memiliki keunggulan.

Pencegahan yang bisa dilakukan jika terjadi internet addiction pada anak bisa dengan terapi behavior atau teknik behavior. Terapi konsep pengubahan perilaku ini sangat berlaku atau dapat diterapkan pada anak-anak. Karena ciri khas perkembangan moral anak-anak masih bersifat patuh pada orang tua atau takut akan punishment (hukuman) atau konsekuensi menyakitkan. Ditambah juga ciri dari kognitif anak-anak yang masih bersifat konkrit operasional (Patricia H. Miller, 1997; Jhon W. Santrock, 2012). Ini berarti mereka masih belum bisa membayangkan atau berpikir secara abstrak layaknya orang dewasa, dan hanya pada hal yang konkrit terlihat indera. Ini berarti linier atau relevan jika dilakukan pengubahan perilaku dengan pemberian punishment atau reinforcement negatif untuk menghilangkan perilaku internet addiction.

Contoh pengubahan perilakunya seperti satu hari hanya satu jam, setelah itu baru disudahi. Karena dalam sebuah kesempatan, menurut Yunita F.N., mengungkapkan bahwa seseorang yang terkena kecanduan gadget adalah lebih dari lima jam. Contoh lainnya yaitu jika ingin anak berhenti berikan reinforcement negative, agar ketika memegang smartphone dapat pengalaman yang kurang menyenangkan. Reinforcement negatif ini berarti mengurangi apa yang membuat anak senang dalam hal lain, misalkan pengurangan jajan. Sehingga akan berkurang perilaku keterantungan pada smartphone. Namun juga, dalam pemberiannya harus dibarengi dengan dijelaskan alasannya. Karena jika tidak anak akan mencari tahu sendiri dan kebingungan mengapa itu dilarang. Kemudian kerja sama dengan orang tua anak tetangga, supaya melakukan hal yang sama. Karena percuma jika di rumah dilarang, tapi di luar bebas melanglang buana. Dan bekerja sama dengan lingkungan sekolah dengan diedukasikan kurikulum internet safety.


Disamping terapi behavior, orang tua harus membuat anak menjadi secure atau nyaman. Ketika anak merasa secure, anak akan lebih terbuka dengan orang tua atau figurenya. Karena orang tua berbeda dengan pembantu. Orang tua tidak hanya memenuhi keinginan anak saja meskipun anaknya menangis. Biarkan mereka menangis, mereka akan belajar menunda kesenangan jangka pendek. Sehingga mereka tahu bahwa segala sesuatu tidak bisa didapatkan secara instan. Ajak diskusi dengan anak juga menggunakan bahasa anak-anak. Sehingga mereka mengerti dan membentuk hubungan yang mutualisme. Karena orang tua merupakan sekolah pertama bagi seorang anak, terutama ibu. Dalam petikan hikmah Q.S Imron di kisah Maryam, menurut sebagian ulama tafsir bahwa Maryam anak yatim bahkan ketika lahir. Artinya Maryam yang hebat itu merupakan didikan dari sang Istri Imron. Namun, dalam Q.S Imron sendiri tidak disebutkan istrinya, yang banyak difirmankan adalah Imron. Itu berarti dibalik istri yang hebat, suami merupakan pendidik sang istri. Tugas suami mengevaluasi, mengajari sang istri, dan istri tersebut bisa mendidik anaknya dengan baik dan benar. Ini bisa menjadi ibrah bagi umat Nabi Muhammad, yang mana Imron sendiri bukanlah seorang nabi. Jadi kita bisa memodelkan keluarga Imron, yang mana grafik keturunannya menanjak bermuara pada Nabi Isa As.

Kata Kunci :

#Sahabatkeluarga #Pendidikankeluarga #Parenting, Penggunaan Gadget, Moral Anak Masa Kini

Daftar Pustaka

Jatnika Y, “Mona dan Indra: Batasi Penggunaan Gadget”, Sahabat Keluarga, https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost/xview&id=4865. Diakses tanggal 14 juli 2018 jam  20.00 WIB.

Lee Jeewon, et al., “Psychological Factors Associated With Smartphone Addiction in South Korean Adolescents”, Journal of Early Adolescence, 2018, Vol. 38(3) 288-302. Retrieved from journals.sagepub.com/home/jea.

Lesley-Anne Ey & C. Glenn Cupit, “Exploring Young Children’s Understanding of Risks Associated with Internet Usage and Their Concepts of Management Strategies”, Journal of Early Childhood Research, 9 (1) 53-65, 2011. Retrieved from http://ecr.sagepub.com.

Miller Patricia H., (1997), Theories of Developmental Psychology Third Edition, New York: W. H. Freeman and Company.

Santrock Jhon W., Terj. Wisdyasinta B, Life Span Development, Jakarta: Erlangga, 2013.

Seong-Soo Cha & Bo-Kyung Seo, “Smartphone Use and Smartphone Addiction in Middle School Students in Korea: Prevalence, Social Networking Service, and Game Use, Health Psychology Open, January-June 2018, 1-15. Retrieved from Journals.sagepub.com/home/hpo.

reading-books
Mengedukasi anak bisa beragam caranya. Source : Parawirsh.in

Untuk kali ini hanya dicukupkan sampai disini. Bagi kamu yang ingin menikah atau sudah bisa disimak untuk menjadikan anak sebagai investasi masa depan. Karena anak akan mendapatkan pendidikan dasar dan awal yaitu dalam sebuah keluarga. Sebagai tambahan, tidak ada yang namanya sekolah bagi orang tua atau sekolah mengasuh. Jadi, orang tua harus aktif menambah informasi tentang kehidupan anak dan cara mendidiknya. Karena kita harus mendidik anak sesuai zamannya. Tentunya kita tidak menginginkan anak cucu kita memiliki tabiat yang tidak inginkan, semoga kita dijauhkan

Bagi kamu yang memiliki kritik atau saran yang sifatnya membangun blog ini dan mungkin juga ingin mengirimkan artikel atau karyanya untuk dipublikasikan di blog ini, kamu bisa mengirimkannya ke e-mail : aripviker@gmail.com
.

Facebook Comments

Arif Keisuke

Lebih suka melihat langit biru di antara pepohonan yang hijau.

4 tanggapan untuk “Tinjaun dan Peran Keluarga Terhadap Pemberian Smartphone dan Internet Pada Anak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: