Gaya Kelekatan dan Pendidikan Keluarga Secara Demokratis Untuk Penanaman Moral Anak

Yosh, Assalamu`alaikum. Selamat malam pembaca yang arif.

Kali ini saya akan mempublikasikan kembali artikel tentang anak dan pendidikan keluarga. Mungkin ini bisa bermanfaat sedikit bagi kamu yang ingin menikah atau berkeluarga, meskipun penulis masih mahasiswa wkwk. Namun seperti biasa hanya mengira dari data, bacaan, dan renungan hehe. Setelah kemarin membahas tentang bagaimana tinjauan jika anak diberikan smartphone [Baca disini : Tinjauan Anak Dalam Pemberian Smartphone]. Kemudian juga artikel lainnya mengenai perilaku anak adalah tentang bagaimana anak belajar dengan mengobservasi orang dewasa atau lingkungan sekitarnya untuk diproduksi jadi perilaku nya [Baca disini: The Better Modeling Figure For Better Children`s Behavior]




Gaya Kelekatan dan Pendidikan Keluarga Secara Demokratis Untuk Penanaman Moral Anak

Semua orang ingin diperlakukan dengan khormat, dihargai, diterima, dan dicintai. Mereka ingin dianggap penting dalam berkontribusi terhadap masyarakat, dan harapan serta keinginannya didengar dan dihargai (Berg & Steiner, 2003, dalam Porter, 2008). Seperti itulah kira-kira gambaran bagaimana setiap orang ingin diperlakukan. Mereka harus diajarkan kasih sayang, bukan kejahatan dan kekerasan yang identik dengan radikalisme. Supaya tercipta kemaslahatan dalam bermasyarakat.

Isu radikalisme sudah tidak asing menjalar di telinga kita. Banyak media yang memberitakan hal tersebut, sehingga setiap kalangan masyarakat bisa mengetahui kabar yang terjadi di negeri pertiwi ini. Isu terakhir yang terjadi di Surabaya sangatlah merisihkan dan menyayangkan hal itu terjadi. Tidak hanya pada sisi korban, dari pelakunya juga bisa dikatakan sangat miris. Seperti yang dilansir dari media elektronik, anak-anak dilibatkan dalam aksi yang tidak bertanggung jawab ini (Tribun Jakarta, 2018 & Detik, 2018). Anak-anak yang merupakan investasi dan sebagai generasi penerus bangsa ini malah diedukasi dengan kekerasan yang kelewat batas. Dalam kasus ini tentunya keluarga memiliki keterlibatan yang besar terhadap anaknya.

pexels-photo-1028009
My Home is My paradise. Source: Pexel

Keluarga merupakan rumah pertama bagi anak dalam mengetahui dunia luar. Keluarga menjadi sarana anak belajar tentang moral untuk bergaul dengan sebaya dan masyarakat. Dalam perkembangan psikologi, anak memiliki tahapan perkembangan moral menurut Lawrence Kohlberg dengan teori dilema moralnya (Yudrik Jahja, 2015 ). Perkembangan moral merupakan perubahan penalaran, perasaan, dan perilaku pada seseorang mengenai bagaimana standar benar dan salah (Santrock, 2007). Ini berarti bagaimana cara anak memandang situasi sosial yang ada disekitarnya dengan data atau informasi dan kognisi yang berisi dasar moralnya. Sehingga dengan begitu anak akan berperilaku dan mempersepsikan situasi sosial dengan hasil pemahaman menilai situasi sosial tersebut.

Teori perkembangan moral kohlberg sendiri terbagi menjadi tiga penalaran dan terdiri dari 6 tahap yaitu penalaran prakonvensional, konvensional, dan pascakonvensional (Santrock, 2007 & Yuridik Jahja, 2015). Jika kita menyandarkannya pada teori Kohlberg, anak-anak berada pada tahapan penalaran prakonvensional dan tahap ke 3 di penalaran konvensional. Tahapan tersebut terdiri dari moralitas heteronom, individualisme, tujuan instrumental, dan pertukaran, dan ekspektasi interpersonal mutual. Tahap pertama merupakan tahap patuh pada hukuman. Mereka memahami moral sebagai ketaatan karena takut pada hukuman akibat perilaku membangkang. Kemudian tahap kedua merupakan penalaran anak pada kepentingan diri sendiri. Maksudnya yaitu sebuah aturan atau fungsi dari anak berperilaku sesuai instrumental karena untuk memenuhi kebutuhan atau kepuasan dirinya. Perkembangan anak terakhir yaitu pada tahap anak akhir dengan menjadi orientasi anak baik. Perilaku moral tersebut dicerminkan dalam menghargai kepercayaan, perhatian, dan kesetiaan pada orang lain. Meskipun begitu, sering dijumpai orang dewasa yang memiliki pemahaman moral di tahap anak-anak.

pexels-photo-259704
Anak akan kreatif dan percaya diri. Source: Pexel

Selanjutnya, Kohlberg menyatakan bahwa perkembangan moral anak tersebut dipengaruhi oleh lingkungan, gender, dan latar belakangnya. Ini menunjukan bahwa peranan luar diri individu atau anak sangat besar. Lingkungan dan latar belakang atau bagaimana anak itu dididik merupakan pengaruh yang dipengaruhi oleh keluarga. Contohnya adalah sebuah penelitian pada anak kembar identik yang dipisahkan sejak lahir dan diadopsi serta dibesarkan oleh keluarga yang berbeda keduanya. Dua anak tersebut bernama Nahid dan Jane. Nahid tumbuh di kota besar Iran sedangkan Jane di keluarga petani di pedesaan Iowa. Keluarga tersebut juga berbeda yang satu penuh kasih sayang, dan satu lagi penuh stres dan alkoholik. Dari keduanya akan memunculkan kepribadian yang berbeda pada anak tersebut meski membawa genetik yang mirip atau identik (Walter Mischel, dkk, 2008).

Besarnya pengaruh keluarga dan lingkungan menjadi sebuah alasan bahwa anak harus diberikan pengaruh atau dididik dengan semestinya. Keluarga berperan sebagai agen sosialisasi kepada anak dalam mengajarkan moral yang berlaku. Totok Isnanto menyebutkan bahwa orang tua memberi pengaruh sebesar 70% terhadap pertumbuhan dan perkembangan anaknya, sedangkan 30% sisanya adalah pengaruh lingkungan luar yaitu sekolah dan masyarakat (Totok Isnanto, 2011). Melihat hal demikian, pendidikan menjadi penting untuk dilaksanakan. Pendidikan keluarga sendiri semestinya diawali sejak pemilihan jodoh atau pasangan sampai pada proses pengasuhan anak.

food-couple-sweet-married
Kamu kapan ? hehe. Source : Pexel

Pemilihan pasangan akan berperan dalam penuruan genetik dan akhlak atau karakteristik pasangan. Pasangan menikah juga harus memiliki pemahaman-pemahaman baik dan pengetahuan yang memadai sehingga anak akan diarahkan dan dibimbingnya. Seyogyanya, orang yang akan menikah harus memiliki perencanaan yang matang, baik untuk pernikahannya atau setelah berkeluarga dan merencanakan konsep pendidikan anak.

Selanjutnya yaitu dalam proses pengasuhan anak atau parenting. Pola pengasuhan anak memang beragam modelnya yang bisa diterapkan oleh orang tua. Dalam kasus ini adalah pola pengasuhan secara otoritatif atau demokratis. Pengasuhan otoritatif merupakan pola asuh yang bercerikan orang tua bersikap demokratis, menghargai dan memahami keadaan anak dengan kelebihan kekurangannya, orang tua memberikan kebebasan anak namun disertai bimbingan kepadanya (Aprilia T. Lidyasari, 2013). Begitupun menurut Daryo yang menyatakan bahwa pola asuh demokrasi adalah kedudukan anak dan orang tua sejajar, keputusan diambil bersama dengan memepertimbangkan kedua belah pihak anak diberi kebebasan yang bertanggung jawab (Daryo, 2004 dalam Nur Aisyah, 2013).

Melihat definisi di atas, keterlibatan orang tua adalah sebagai pembimbing dalam mengasuh anak. Kemudian dalam sebuah penelitian menunjukan bahwa anak yang bermoral cenderung memiliki orang tua dengan karakteristik yang (Eisenberg & Valiante, 2002, dalam Santrock, 2017) hangat dan mendukung, disiplin secara konkret pada konsekuensi, memberikan kesempatan bagi anak dalam mempelajari dan empati pada orang lain, melibatkan anak dalam keputusan keluarga, orang tua sebagai model yang baik, menjadi tutor dalam menjelaskan perilaku apa yang diharapkan dan mengapa, dan membangun moralitas internal disamping eksternal.

pexels-photo-853408
Hubungan yang secure. Source: Pexel

Indikator-indikator tersebut sejalan dengan pola asuh orang tua yang bersifat demokratis, dan bagaimana membentuk sebuah kedekatan atau hubungan dengan anak secara secure atau nyaman. Karena berdasarkan pada teori attachment atau kelekatan Ainsworth, kedekatan atau kualitas hubungan ketika masa anak akan mempengaruhi hubungan kedepannya. Kedekatan pula akan mempengaruhi pola pengasuhan antara anak dan orang tua, anak akan merasa nyaman ketika dibimbing orang tuanya (Walter Mischel, dkk, 2008). Sehingga prasyarat penyelenggaraan pendidikan secara demokratis pada anak harus ada hubungan yang secure atau nyaman antara orang tua dan anak. Jika hubungan atau gaya orang tua yang insecure atau menghindar terhadap anaknya misalkan, ini akan tentunya akan berdampak buruk pada bagaimana orang tua tersebut mendidik anak begitupun anak akan merespon secara menghindar

Berdasarkan sebuah penelitian, gaya attachment atau kelekatan memiliki hubungan yang positif dengan konsep diri seseorang. Konsep diri merupakan skema diri yang berkaitan dengan aspek fisik, psikis dan akademik (Avin F. Helmi, 1999). Konsep diri akan memiliki pengaruh bagaimana seseorang mencari identitas diri. Identitas diri seseorang bisa dijelaskan dalam teori psiko sosial dari Erickson.




Merujuk kepada teori psikososial Erickson yaitu anak yang berada pada usia 4-6 tahun jika terpenuhi secara nyaman akan berada pada tahap inisiatif dan industri (Patricia H. Miller, 2011). Ciri dari anak yang ada pada tahap inisiatif adalah memiliki ketegasan dalam memilih dan menyelesaikan masalah, memiliki evaluasi diri, dan berinisiatif untuk belajar. Ini dikarenakan orang tua yang tidak hiper proteksi dan tidak otoriter pada anak. Anak yang diasuh otoriter akan merasa rendah diri dan merasa takut atau bersalah dalam melakukan sesuatu. Ini disebabkan orang tua yang sepenuhnya mengekang, dan jika salah akan diberi punishment. Sehingga akan berdampak pada perilaku anak yang merasa takut atau ragu. Kemudian di tahap Industry, anak yang telah masuk ke dalam lingkungan sekolah akan cenderung kreatif dan lebih positif dalam menilai orang lain. Anak yang tidak masuk ke dalam Industry akan menjadi inferiority. Mereka akan kehilangan harapan atau menutup diri dari pergaulan dengan orang lain karena pengalaman masa lalunya.

Melihat hal demikian, identitas diri merupakan sesuatu yang sangat penting. Ketika seorang anak dibentuk identitasnya secara baik, itu akan berdampak pada kehidupan di masa mendatangya. Karena identitas bersinggungan dengan konsep diri. Konsep diri sendiri memiliki pengaruh pada bagaimana seseorang berperilaku diberbagai kondisi. Jika orang yang memiliki konsep diri secara kognisi diisi oleh hal yang berbau radikalisme, aspek pikiran, perasaan, persepsi, dan perilakunya akan menunjukan paham radikalisme. Disamping itu, pengaruh keluarga terhadap anak tidak hanya sampai disana. Pengaruh lainnya seperti terhadap motivasi instrinsik akademik, prestasi akademik, pemahaman dan pengungkapan emosi, perilaku beragama dan lainnya. Oleh karena itu, pengaruh keluarga dalam membentuk karakter anak, penanaman nilai-nilai dasar moral dan dukungan pada anak memiliki peran yang strategis bagi perkembangan anak tersebut.

#SahabatKeluarga #Kemdikbud #PendidikanKeluarga

Daftar Pustaka

Helmi F. A., “Gaya Kelekatan dan Konsep Diri”, Jurnal Psikologi UGM, No. 1, hal. 9-7, 1999.

Isnanto T (2011)., Mengasuh Anak Dengan Bijak, Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Anak Usia dini, Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini Nonformal dan Informal Kemdikbud. Retrieved https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id.

Jahja Y., (2015), Psikologi Perkembangan, Jakarta: Prenadamedia Group. Retrieved from pustaka-indo.blogspot.com.

Lidyasari T. Aprilia, “Pola Asuh Otoritatif Sebagai Sarana Pembentukan Karakter anak Dalam Setting Keluarga”, 2013.

Miller H. P., (2011), Theories of Developmental Psychology, New York: Worth Publishers. Retrieved from b-ok.org.

Mischel W., Shoda Y., Ayduk O., (2008), Introduction to personality toward an integrative science of person, New Jersey: John Wiley & Sons.

Nur A., “Pola Asuh Demokratis, Kepercayaan Diri dan Kemandirian Mahasiswa Baru”, Persona Jurnal Psikologi Indonesia, Vol. 2, No. 2, Hal. 108-121, Mei 2013.

Porter L., (2008), Teacher-Parent Collaboration Early Childhood to Adolescence, Victoria: ACER Press.

Prasetia A., ” Jokowi: Teror Bom Surabaya Biadab, Pelaku Gunakan 2 Anak”, DetikNews, Minggu, 13 Mei 2018. https://news.detik.com/berita/d-4018471/jokowi-teror-bom-surabaya-biadab-pelaku-gunakan-2-anak. Diakses pada tanggal 19 Juli 2018 pukul 07.30

Santrock W. J., Terj. Rachmawati M. & Kuswanti A, Perkembangan Anak Edisi ke tujuh jilid dua, Jakarta: Erlangga, 2007.

Tohir R. J, “Banyak Anak Jadi Korban Bom Orang tuanya, Kapolri: Sadarlah”, Tribun Jakarta, Jum`at, 6 Juli 2018. http://jakarta.tribunnews.com/2018/07/06/banyak-anak-anak-jadi-korban-bom-orang-tuanya-kapolri-sadarlah Diakses pada tanggal 19 Juli 2018 pukul 07.30. WIB.

pexels-photo-206673
Rumah indah. Source: Pexel

Untuk kali ini dicukupkan sampai disini. Semoga bisa bermanfaat dan menjadi langkah awal bagi kamu mengenali macam-macam pendidikan keluarga. Untuk lebih lanjut tentang pendidikan keluarga bisa kamu baca di Sahabat Keluarga Kemdikbud. Semoga kita bisa lebih aware terhadap generasi penerus bangsa ini. Mereka bukan sarana pendoktrinan kejahatan, tapi diajarkan kasih sayang supaya bertoleransi dan merangkul satu sama lain dalam bermasyarakat.

Bagi kamu yang memiliki kritik atau saran yang sifatnya membangun blog ini dan mungkin juga ingin mengirimkan artikel atau karyanya untuk dipublikasikan di blog ini, kamu bisa mengirimkannya ke e-mail : aripviker@gmail.com

Facebook Comments

Arif Keisuke

Lebih suka melihat langit biru di antara pepohonan yang hijau.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: