Pendahuluan

Kali ini Arif Keisuke akan memuat artikel mengenai resensi buku Tuhan Tidak Perlu Dibela karya Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Buku ini merupakan karya kritis Gus Dur pada tahun 1970-1990 an. Dimana beliau masih muda dan masih aktif menulis dengan gagasan beraninya. Buku ini juga merupakan kumpulan artikel karya Gus Dur yang dimuat atau diterbitkan dalam majalah atau koran Tempo kala itu.

Baca juga: Bayangan Indahnya Cinta Pada Bangsa Indonesia Tidak Seperti Realitanya – Resensi Mellow Yellow Drama Karya Audrey Yu Jia Hui

Ketika membaca buku ini, kamu akan diajak berpikir oleh Gus Dur mengenai keislaman, keindonesiaan, toleransi dan pengalaman beliau kala itu mengenai dunia internasional. Selain isu tersebut, Gus Dur mencoba menyadarkan masyarakat akan pentingnya memperjuangkan dalam pengentasan kemiskinan, pemerataan dan masalah sosial lainnya. Ini tertuang dari beberapa tema dalam buku tuhan tidak perlu dibela ini. So, membaca resensi buku ini terlebih dulu merupakan ide yang tidak buruk loh.

Oke langsung saja mending baca dulu artikel dengan judul lengkapnya Memahami dan Refleksi Pemikiran Gus Dur Tentang Islam, Kebangsaan dan Dunia – Resensi Buku Tuhan Tidak Perlu Dibela Karya Gus Dur sampai habis ya!

Memahami dan Refleksi Pemikiran Gus Dur Tentang Islam, Kebangsaan dan Dunia – Resensi Buku Tuhan Tidak Perlu Dibela Karya Gus Dur

Informasi Buku

Resensi buku tuhan tidak perlu dibela, Ulasan buku tuhan tidak perlu dibela, review buku tuhan tidak perlu dibela, download tuhan tidak perlu dibela pdf.
Arif Keisuke – Tuhan Tidak Perlu Dibela

Judul Buku : Tuhan Tidak Perlu Dibela

Penulis : Abdurrahman Wahid, Muh. Shaleh (Editor)

Genre : Islam, Politik, Non-Fiksi

Bahasa : Indonesia

Penerbit : IRCiSoD atau DivaPress (2018), LkiS (1999)

Kota Terbit : Yogyakarta

Tahun : 2018

Tebal : 316 halaman

ISBN : 978-602-7696-51-8

Tentang Penulis

Resensi buku tuhan tidak perlu dibela, Ulasan buku tuhan tidak perlu dibela, review buku tuhan tidak perlu dibela, download tuhan tidak perlu dibela pdf.
Arif Keisuke – Gus Dur. Sumber: Flickr

Abdurrahman Wahid atau biasa dikenal dengan Gus Dur merupakan Presiden Republik Indonesia ke-4, Kiai, Filosof dan lainnya. Beliau lahir pada tanggal 7 September 1940 di Jombang, Jawa Timur. Sapaan Gus Dur didapatkannya karena beliau lahir dari kalangan terhormat di kalangan Nahdiyin atau Nahdhatul Ulama (NU), yaitu anak dari K.H. Wahid Hasyim atau cucu pendiri NU K.H. Hasyim Asy`ari.

Baca juga: Menangkal Tafsir Al-Quran yang Serampangan – Resensi Tafsir Al Quran di Medsos Oleh Nadirsyah Hosen

Sepak terjang pendidikan Gus Dur dimulai di Jakarta untuk pendidikan dasar, kemudian ketika SMP beliau pindah ke Yogyakarta. Baru setelah tamat SMP Ia nyantri di Pesantren Tegalrejo, Magelang. Setelah itu, pada tahun 1959 Ia pulang ke Jombang dan nyantri di Pesantren Tambakberas. Ditahun 1963, Gus Dur menerima beasiswa dari kemenag untuk studi di Universitas Al-Azhar, Mesir. Selanjutnya kiprah pendidikannya pada tahun 1970 pindah ke Universitas Baghdad.

Kiprah Gus Dur sangatlah banyak terutama dalam kehidupan masyarakat. Beliau pernah aktif di Lembaga, Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES). Kemudian aktif menjadi jurnalis pada Majalah Tempo dan Harian Kompas karena Gus Dur melihat kehidupan masyarakat jauh sangat memprihatinkan.

Untuk lebih lengkapnya, kamu bisa membacanya di laman berikut [Wikipedia: Gus Dur], [Merdeka: Gus Dur]. [Britannica] dll.

Ulasan Buku dan Petikan Pesannya

Resensi buku tuhan tidak perlu dibela, Ulasan buku tuhan tidak perlu dibela, review buku tuhan tidak perlu dibela, download tuhan tidak perlu dibela pdf.
Arif Keisuke – Menjadi Pribadi yang tidak mudah marah. Sumber: Pexels

Sebagai seorang Kiai Gus Dur berkapasitas dalam membuat artikel dan mengkritisi perihal menjalankan Islam yang ada, terutama di Indonesia. Dalam buku Tuhan Tidak Perlu Dibela, dimulai dari bagian pertama, berisikan pemikiran beliau seputar Islam. Polemik-polemik yang terjadi kala itu dikupas oleh Gus Dur tentang bagaimana Islam itu harus berkemajuan, moderat dan memperjuangkan kehidupan bermasyarakat. Di sini saya tidak akan menceritakan seluruh bagiannya, namun akan mengambil beberapa topik yang dirasa menarik disajikan, dan menjadi refleksi masa kini dalam menjalankan Islam.

Topik yang pertama yaitu dalam Fatwa Natal. Menarik diikuti, fatwa natal tidak pernah habis diperdebatkan atau dipertentangkan oleh beberapa kalangan. Setiap menjelang perayaan natal, isu ini terus diangkat kepermukaan, bahkan mungkin ada yang sampai menegangnnya urat kepala. Dalam artikel Gus Dur, fatwa natal dulu pernah dikeluarkan MUI yaitu umat Islam dilarang untuk menghadiri perayaan agama lain. Fatwa ini dipertentangkan sampai Buya Hamka meletakan jabatannya sebagai Ketum MUI. Gus Dur mengkritik bahwa memang MUI harus bisa menemukan pangkal persoalannya.

Bila engkau menganggap Allah ada hanya karena engkau yang merumuskannya, hakikatnya engkau sudah menjadi kafir. Allah tidak perlu disesali kalau “Ia menyulitkan” kita. Juga tidak perlu dibela kalau orang menyerang hakikat-Nya. Yang ditakuti berubah adalah persepsi manusia atas hakikat Allah, dengan kemungkinan kesulitan yang diakibatkannya”

Al Hujwiri – Dikutip dari Tuhan Tidak Perlu Dibela

Gus Dur memberikan saran bahwa MUI harus bisa membuat batasan mana masalah yang patut dipegang oleh MUI. Masalah yang menjadi sarannya yaitu kenapa tidak pada persoalan mendasar yang dihadapi bangsa ini, seperti bagaimana pandangan agama dalam penanganan kemiskinan dalam masyarakat, dan bagaimana keluar dari kebodohan akibat tidak adanya pemerataan pendidikan dsb. Jawabannya harus konkret dan terperinci, bukan menyitir beberapa hadits saja.

Baca juga: Mengenal Perbandingan Mazhab dan Islam yang Luwes dari Australia – Resensi Kiai Ujang di Negeri Kanguru Karya Nadirsyah Hosen

Masalah lainnya yaitu seperti Qasidah yang mengapa identik musik Islami tidak menggunakan musik yang baik, vokalis yang terlatih untuk merasakan adanya Tuhan. Atau juga masalah gerakan sempalan Islam, dimana dijelaskan ketika orang, terutama anak muda, menghardik orang yang berbeda pemahaman dan penghayatan dalam Islam menjadi isu yang telah lama dan hingga kini terus belum terselsaikan. Serta ketakutan yang tidak mendasar akan tergerusnya Islam oleh modernisasi, yang mengakibatkan munculnya Islam sebagai alternatif di berbagai bidang dan berjalan stagnan dalam kemajuan. Dsb.

Bahasan kedua yaitu dalam Kebangsaan dan Kebudayaan. Di sini Gus Dur banyak menyuarakan permasalahan atau fenomena yang ada di Indonesia, khususnya pada masa orde baru. Beliau mengkritik pemerintahan orba secara halus menggunakan ranah kebudayaan. Sebagai contoh Gus Dur sangat konsisten membela bagaimana terjadinya proses pemiskinan mayoritas bangsa karena pemerintahan yang korup, pemusatan sumber daya ekonomi, dan tidak adilnya pembangunan.

Resensi buku tuhan tidak perlu dibela, Ulasan buku tuhan tidak perlu dibela, review buku tuhan tidak perlu dibela, download tuhan tidak perlu dibela pdf.
Arif Keisuke – Kamu Berislam bagaimana? Sumber: Pexels

Sebagai contoh topik dalam bagian ini yaitu Perubahan Struktural Tanpa Karl Marx. Di sini dijelaskan bahwa penganut paham Marx atau Lenin atau Komunisme itu mentransformasikan perubahan struktur masyarakat hanya bisa didapatkan kalau kekuasaan telah direbut dari tangan pemegang kekuasaan. Namun Gus Dur memiliki alternatif yakni bisa mengubah struktur masyarakat tanpa penggulingan kekuasaan dengan pendidikan berjangka panjang, perjuangan menegakan keadilan melalui bantuan hukum struktural atau persamaan kesempatan dalam mengakses kegiatan ekonomi sampai tingkat bawah.

Baca juga: Belajar Mecintai Saudara Sebangsa Indonesia – Resensi Mencari Sila Kelima Oleh Audrey Yu Jia Hui

Dalam bahasan ketiga yaitu tentang pengalaman luar negeri Gus Dur mengenai demokrasi, politik dan perkembangan dunia. Dalam bagian ini, kamu akan lebih banyak dikenalkan dengan bagaimana pergolakan yang terjadi di timur tengah terutama Mesir, Irak, Iran dan Israel. Mengingat Gus Dur lama di beberapa negara ini dalam menempuh studinya. Topik yang dibahas misalnya bagaimana Palestina dari Tragedi ke Eksistensi, yaitu ketidakmauan berdamai antara Palestina dan Israel menggunakan jalur kebudayaan ketimbang dengan operasi militer. Ini dijelaskan juga di bab yang lain yaitu percobaan presiden Mesir, Anwar Sadat yang memperjuangkan kedamaian dengan Israel menggunakan pendekatan diplomasi dan kebudayaan. Namun akhirnya mati terbunuh, karena adanya golongan Islam militan. dsb.

Secara keseluruhan, buku ini sangat layak dibaca untuk kamu yang mendalami pemikiran Gus Dur atau yang tertarik dengan fenomena keislaman, demokrasi, politik dan kebangsaan. Buku ini sangat menggugah dan cerdas tentunya, karena mampu mengajak berpikir pembaca mengenai permasalahan yang ada dari sudut pandang yang baru. Akan tetapi, bahasa yang digunakan dalam buku ini memang cukup ruwet dan perlu memakan waktu untuk memahaminya. So, jangan buru-buru ketika membaca buku ini ya.

Link Download dan Baca Buku Tuhan Tidak Perlu Dibela

Bagi kamu yang ingin mengunduh buku Tuhan Tidak Perlu Dibela PDF, kamu hanya bisa mengunduhnya di Google Play Book. Harga buku yang ditawarkan di sana berkisar pada RP. 56.000 – Rp. 75.000., [Buku Tuhan Tidak Perlu Dibela].

Akan tetapi jika kamu memang tidak menyukai buku elektronik, kamu bisa membeli buku ini di toko buku terdekat atau dari toko online. Harga yang ditawarkan untuk membeli buku Tuhan Tidak Perlu Dibela sekitar Rp. 67.000 – Rp. 80.000., Yuk biasakan membeli buku resminya atau membaca dari kanal resmi untuk mendukung penulis, penerbit atau pihak lain yang terlibat bisa tetap produktif!

Buku Lainnya Karya Abdurahman Wahid (Gus Dur)

  • Islamku, Islam Anda, Islam Kita (2006)
  • Gus Dur Menjawab Kegelisahan Rakyat (2007)
  • Mengurai Hubungan Agama dan Negara (1999)
  • Pergulatan Negara, Agama dan Kebudayaan (2001)
  • Melawan Melalui Lelucon: Kumpulan Kolom Abdurrahman Wahid di Tempo (2000)
  • Misteri Kata-Kata (2010)
  • Islam Kosmopolitan: Nilai-nilai Indonesia & Transformasi Kebudayaan (2007)
  • Menggerakan Tradisi: Esai-esai Pesantren (2001)
  • Prisma Pemikiran Gus Dur (1989) dll

Daftar Pustaka

Wahid, Abdurrahman, Ed. Muh.Shaleh., (2018), Tuhan Tidak Perlu Dibela, Yogyakarta: IRCiSoD.

Penutup

Resensi buku tuhan tidak perlu dibela, Ulasan buku tuhan tidak perlu dibela, review buku tuhan tidak perlu dibela, download tuhan tidak perlu dibela pdf.
Arif Keisuke – Saling Toleransi adalah kunci perdamaian. Sumber: Pexels.com

Untuk artikel resensi buku tuhan tidak perlu dibela hanya cukup sampai di sini saja. Semoga kamu bisa mengambil pelajaran dan petikan hikmahnya dalam tulisan ini, atau dari bukunya. Teruslah untuk memperjuangkan rakyat terutama dalam pengentasan kemiskinan, hak asasi manusia dan persuadaraan (toleransi dalam perbedaan). Artinya tidak menjadi orang yang cepat marah-marah. Jangan lupa bagikan ke temanmu jika kamu mendapatkan suatu inspirasi dari sini ya, supaya bisa berbagi dengan orang lain. Terima kasih.

Bagi kamu yangmemiliki kritik atau saran yang sifatnya membangun blog ini dan mungkin juga ingin mengirimkan artikel atau karyanya untuk dipublikasikan di website ini, kamu bisa mengirimkannya ke alamat e-mail berikut ini: Aripviker@gmail.com

Kata Kunci: Resensi buku tuhan tidak perlu dibela, Ulasan buku tuhan tidak perlu dibela, review buku tuhan tidak perlu dibela, download tuhan tidak perlu dibela pdf.